Sudah Dihargai Rp 500 Juta, Kebun Madok Tak Dikompensasi Apa-apa

LEBONG, sahabatrakyat.com– Tak cuma Adnan (55 tahun) yang punya keluh soal kebunnya yang terancam tenggelam jika bendungan PLTA Air Putih beroperasi. Tetangga kebunnya bernama Madok juga bernasib serupa.

Malam itu pukul 19.00 WIB di tanggal16 Januari 2020. Di rumah sederhana milik Rahman Achmadi alias Madok (60 tahun), warga Desa Talang Bunut, Kecamatan Lebong Sakti, Adnan datang bertamu. Adnan tak sendiri. Ada Ridwan (50 tahun), sepupunya menemani.

Di rumah itu obrolan berlangsung hangat. Mereka saling curhat dan menguatkan saat membincang kebun mereka yang terdampak proyek bendungan yang digarap PT Bangun Tirta Lestari (BTL).

Kebun Adnan yang berjarak sekitar 200 meter dari bendungan itu dikhawatirkan terendam, sedangkan kebun Madok malah sudah terendam. Bahkan lebih dari 500 batang kopinya sudah mati dan sisanya sudah menguning.

Kepada sahabatrakyat.com, Madok menyampaikan kebunnya terhampar seluas 2,5 hektar dengan tanaman utama kopi mencapai 3.622 batang, durian 12 batang dan pinang 25 batang. Kebun itu sudah ia garap sejak 2001. Sebelumnya bahkan dia bersawah di situ sejak tahun 1963.

Kehadiran bangunan PT BTL di dekat kebunnya semakin menghawatirkan dirinya akan kehilangan kebun kopinya, dan itu terasa semakin terbukti saat dirinya melihat bangunan bendungan dan akhirnya merendam kebunnya hingga hampir 2 meter saat uji coba pembendungan sebulan yang lalu.

“Saat aku lagi di kebun aku dengar gemuruh air yang di bendung, aku lihat dengan mata satu ini air sudah merendam kebun. Segini dalamnya,” cerita Madok sembari menunjuk batas pahanya.

Madok

Pernah ada upaya dari pihak PT BTL ingin mengganti rugi dengan nilai Rp 554.300.000 dari untuk seluruh tanaman yang ada di kebunnya. Bahkan sudah ada berita acara kesepakatan itu. Namun tak kunjung diberikan meski sudah ditagih berkali-kali.

Lalu dengan dalih kebunnya masuk wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Madok disebut tidak bisa menerima hak ganti rugi walaupun sedikit.

“Saya ini orang bodoh dan susah, gak tau lagi mau mengadu sama siapa. Dulu pernah ada pengacara tapi dia bilang tidak mampu,” katanya.

Ibunda Madok bernama Ahaddemah (89 tahun), menceritakan perjuangannya bersama almarhum suaminya membuka lahan itu demi bertahan hidup hingga membuka lahan seluas 2.5 ha pada tahun 1963 karena himpitan ekonomi keluarga.

Bersama suami dan anak pertamanya, Ahaddemah membuka lahan dengan alat seadanya berupa sebilah parang. Ia ingat jika datang ke kebun membawa beras 1 kaleng motivasinya adalah membawa beras 2 kaleng.

“Pohon-pohon besar dulu kami tebang pakai parang itulah. Dulu tidak ada namanya hutan TNKS itu,” ceritanya.

Sementara itu, Koordinator KKI Warsi Bengkulu, Nurcholis Sastro berpendapat, untuk tanam tumbuh seharusnya PT BTL mengganti rugi apabila memang terkena dampak. Apalagi kebun itu ada sebelum TNKS.

“Seharusnya perusahaan memberikan tanda batas tinggi maksimum air dari bendungan itu. Kita nanti cek lokasi dulu untuk mengumpulkan data,” tukas Sastro soal langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya.


Pewarta : Aka Budiman