
LEBONG, sahabatrakyat.com– Wabah corona belum menunjukkan gejala mereda. Sementara aktivitas memanen padi di sawah di sejumlah wilayah dalam Kabupaten Lebong juga tak bisa ditunda.
Sudah tradisi turun temurun panen padi itu melibatkan banyak orang. Perlu bergotong-royong. Tak hanya kaum pria atau bapak-bapak saja. Malah kini kebanyakan kaum perempuan. Emak-emak yang ikut berjuang mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Di tengah ancaman Covid-19 itulah DPD KNPI Lebong, Selasa pagi (31/03/2020) menggelar aksi turun ke sawah. Mendatangi warga yang tengah ramai memanen padi. Hari ini KNPI turun di Desa Muning Agung, Kecamatan Lebong Sakti.
Ketua DPD KNPI Lebong, Ronald Reagen, mengatakan, selain membagi masker, KNPI juga berbagai pengetahuan tentang apa dan bagaimana cara mencegah penyebaran Covid-19 kepada petani.
“Ratusan masker dan himbauan diberikan kepada pejuang ketahanan pangan ini dalam upaya kami membangun kesadaran bersama memutus rantai penyebaran virus corona,” papar Ronald.
Anggota DPRD Lebong ini menambahkan, aktifitas yang biasa disebut erek dalam musim panen padi melibatkan perkumpulan manusia setiap harinya dan akan berlangsung hingga April nanti.
Menurut Ronal, ada sekitar 500 lembar masker dan himbauan menjaga kebersihan, seperti cuci tangan, mandi dan jaga jarak yang dibagikan.

“Ini simbolis mengajak kesadaran bersama untuk saling menjaga dan melindungi penyebaran virus corona,” ulangnya. “Kita berharap dan berdoa semoga masyarakat petani di Kabupaten Lebong terhindar dari wabah itu,” tutup Ronal.
Salah seorang petani bernama Redi (57 tahun) berharap kegiatan panen padi tidak terhenti gara- gara virus corona. Pasalnya, kata Redi, sepuluh hari saja jika padi matang tak dipanen akan pecah.
Karena itu, untuk menghindari inveksi virus itu mereka berupaya menjaga kebersihan dan jarak. Sebelum dibagikan masker oleh KNPI, Redi mengaku masker yang biasa dipakai hanya berupa kain saja.
“Kalau untuk pencegahan saya melihat pemberitahuan di televisi itulah. Makan yang cukup, jaga kebersihan. Kayak gitu,” tuturnya.
Pewarta: Aka Budiman | Editor: Jean Freire








