Warga di Sekitar Wisma Isolasi Pasien Covid-19 Cemas & Takut

Bakarudin

BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com- Warga yang tinggal di sekitar wisma isolasi tempat karantina penanganan Covid-19 Bengkulu Utara kini cemas dan merasa takut.

Seperti diketahui wisma isolasi karantina penanganan covid-19 itu ada di tengah pemukiman penduduk di Kelurahan Gunung Alam, Kecamatan Kota Arga Makmur.

Bakarudin, warga setempat saat dibincangi di kediamannya belum lama ini, mengatakan aliran air pembuangan dari wisma itu sempat bocor dan sudah dilaporkan.

“Harapan kita masyarakat, pemerintah segera mengambil langkah karena tempat isolasi wisma karantina Covid-19 tidak pas kalau berada di tengah pemukiman masyarakat,” katanya.

“Masyarakat banyak ketakutan dan tidak berani untuk keluar, mestinya sebelum wisma ini dijadikan tempat isolasi karantina Covid-19 masyarakat dipanggil dan disosialisasikan terlebih dahulu. Ini tidak sama sekali memberi tahu masyarakat yang tinggal di sekitar wisma” keluh Bakarudin.

Dikatakan Bakarudin, pernan ada warga protes lantaran orang yang sedang menjalani karantina keluar membeli rokok. Setelah ramai diperbincangkan baru datang melihat ke wisma.

“Kita masyarakat berharap tempat karantina dipindahkan, yang cocok itu mestinya jauh dari pemukiman masyarakat seperti di rumah bupati lama atau pesanggrahan Kemumu yang jauh dari pemukinan,” saran Bakarudin.

Bahiram, warga lainnya yang rumahnya persis di depan wisma mengatakan, sejak isolasi ditempatkan di wisma atlet ini, ia merasakan ketidak nyamanan dan ada rasa ketakutan ikut terpapar.

“(Apalagi) Dari awal kita masyarakat sekitar belum ada sosialisasi bila wisma atlet ini akan digunakan untuk wisma karantina penanganan Covid-19” singkatnya.

Riono

Ketua RT 5 Riono menambahkan semestinya sebelum ditetapkan sebagai lokasi karantina, masyarakat yang tinggal di sekitar wisma atlet ini diberi sosialisasi. Sebab biar bagaimanapun lokasi isolasi itu bearada di lingkungan pemukiman.

“Setelah mendengar keluh kesah dari masyarakat sekitar, saya selaku RT sempat berkoordinasi dengan pak lurah. Pak Lurah sendiri mengatakan tidak ada koordinasi dengan pihak kelurahan, kita pikir bila dengan lurah tidak ada koordinasi apalagi dengan saya selaku RT” jelas Riono.

Ia menuturkan, saat peristiwa ada warga yang diisolasi keluar itu sempat menghebohkan masyarakat sekitar. Sejak itulah apa yang menjadi keresahan warga mulai ditanggapi.

“Akhirnya datanglah dari dinas terkait yang tergabung dalam tim gugus tugas, datang dan mensosialisaikan itu ke perwakilan warga terdekat RT 5 dan RT 2,” cerita Riona kepada sahabatrakyat.com

Intinya, kata Riono, dengan adanya warga yang diisolasi, yang keluar itu menjadi antisipasi tidak akan terjadi kembali.

“Kami juga menyampaikah ada air limbah dari wisma isolasi yang mengalir ke pemukiman warga supaya segera menjadi perhatian. Kami sebenarnya warga ini mendukung tetapi kami meminta tolong, kami warga sekitar tempat isolasi ini harus diperhatikan juga,” katanya.

Kata Riono, warganya sejak awal memang sudah mulai resah. Namun karena tempat itu adalah aset pemerintah maka mereka tidak bisa menolak. “Tetapi mestinya harus juga memperhatikan lingkungan kami sekitarnya,” kata Riono.

Ia menandaskan kalau memang kedepannya ada tempat yang lebih tepat yang jauh dari pemukiman masyarakat, kami sangat setuju sekali karena mengingat mengantisipasi jangan sampai nanti katanya untuk memutus tetapi malah membuat rantai baru.

“Satu sisi kami tetap mendukung apa yang menjadi program pemerintah, ini tanggung jawab kita bersama, dalam arti untuk lebih memperhatikan, lebih teliti lagi jangan sampai tujuan kita untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 ini tetapi sebaliknya malah membuat mata rantai baru”.

Lalu yang menjadi keluhan masyarakat juga, untuk sampah di depan wisma isolasi, kami juga tidak tahu apakah sampah tersebut dari orang-orang yang dikarantina atau petugas disana, itu kalau pagi sampah itu bertebaran sedikit banyaknya ini membuat risih,”

Itu penyampaian masyarakat kepada kami selaku ketua RT, kita juga sudah sampaikan minta tolong bapak/ibu sampahnya, karena ini tempat karantina disesuaikan dengan protokol kesehatan.


Pewarta: MS Firman