
BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com– Eni Mulyanti (36 tahun) kini terbaring lemah. Warga Desa Kota Lekat, Kecamatan Hulu Palik, Kab. Bengkulu Utara itu tengah berjuang melawan kanker yang menderanya.
Beban Eni kian berat. Pasalnya, setelah melalui tiga kali kemo, terapi lanjutan masih harus dia lalui pekan depan di RSUP Dr. Muhammad Hoesin, Palembang, Sumatera Selatan.
Yang membuat beban Eni dan sang suami Juhardi (43 tahun) kian berat adalah biaya. Mereka sudah tak punya cukup uang untuk biaya selama menjalani kemo itu.
Sebelum didera sakit, Eni bisa jualan di SD 161 Bengkulu Utara. Profesi itu sudah dia lakoni sejak 2006 silam.
Sementara Juhari sehari-harinya adalah pedagang gas keliling. Semua penghasilan pasutri itu sudah terkuras untuk biaya akomodasi selama terapi.
“Istri saya mau sembuh. Dia mau jualan seperti biasanya. Kami mohon uluran tangan para dermawan agar istri saya bisa jalani terapi,” harap Juhari.

Eni Mulyati mengidap kanker payudara stadium 4 akhir. Sakit ini bermula dari demam lalu disusul rasa sakit pada bagian payudara.
“Semula ada benjolan yang tumbuh, tapi dikira hanya bisul,” kata Eni yang ditemui sahabatrakyat.com di kediamannya, belum lama ini.
Eni mengaku sudah sekitar tujuh bulan merasakan sakit. “Karena tidak punya biaya, tidak bisa lagi berobat ke Palembang” katanya lirih.
Juhardi menuturkan, awalnya Eni berobat di Puskesmas Batu Roto. Lalu ke RSUD Arga Makmur kemudian dirujuk ke RSU M. Yunus Bengkulu selama 20 hari.
Dari sana Eni beri pilihan rujukan, yakni ke Palembang atau RS Fatmawati Jakarta. Karena faktor biaya, mereka lalu memilih ke Palembang.

“Sudah tiga kali kemo di Palembang. Untuk jalani kemo berikutnya kami tak punya cukup biaya lagi,” keluh Juhardi.
Bagi para dermawan yang sudi dan ikhlas mengulurkan tangan membantu ibu Eni Mulyati, untuk sementara dapat menghubungi koordinator Kabupaten Program Keluarga Harapan Dedi Permana di nomor telepon 0823 7476 8802.
Selain menderita kanker payudara stadium 4 akhir, Eni Mulyati tinggal di rumah yang tidak layak huni, lantai tanah, dinding papan dan penuh kekurangan, ditambah bila hujan deras turun air masuk ke dalam rumah setinggi dengkul orang dewasa.
Penulis: MS Firman
Editor: Jean Freire








