Aktivis Perempuan Bengkulu Desak Sahkan RUU PKS

Aksi Teatrikal Perempuan Bengkulu Desak Sahkan RUU PKS, Jumat (8/3/2019)

BENGKULU, sahabatrakyat.com- Puluhan aktivis perempuan dari IAIN, BEM UNIVED, HIMA PTIK UNIVED, BEM POLTEKES, BEM UNIB, Cahaya Perempuan, MAMPU, FOSSIL FREE, XGO, FPMB, dan IMM menggelar aksi unjuk rasa, Jumat (9/3/2019) di Kota Bengkulu.
Mereka mendesak pemerintah segera mengesahkan Rancangan Undang- Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) sebagai salah satu upaya dan bentuk keseriusan semua pihak dalam upaya memerangi kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.
Koordinator Aksi Lica mengatakan, demonstrasi perempuan itu merupakan puncak dari sejumlah aksi dan gerakan kajian yang sudah dilaksanakan sebelumnya (1-7 Maret 2019) di lima kampus terkait RUU PKS tersebut, yakni di Unib, Dehasen, IAIN, Poltekes, dan UMB.
“Kita mendorong agar segera disahkan RUU PKS sebagai landasan untuk memastikan hak-hak perempuan korban kekerasan seksual terpenuhi,” kata Lica.

Lica mengatakan, regulasi yang ada selama ini belum menempatkan perempuan sebagai korban sehingga penegakan hukum dalam kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan juga tidak menimbulkan efek jera apalagi rasa keadilan.
“Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan di Bengkulu kian meningkat. Jadi dibutuhkan peran semua pihak. Kita juga meminta masyarakat agar saling peduli dengan lingkungan sekitar,” cetus Lica.
“Kalau melihat kasus kekerasan yang terjadi hari ini, dalam KUHP, misalnya, kita hanya mengatur mengenai pencabulan, kemudian bentuk kekerasan lain tidak diatur. Makanya banyak sekali kasus kekerasan seksual yang tidak bisa ditangani sebab tidak ada kebijakan yang mengatur secara spesifik bagaimana cara penanganannya,” ungkap Lica.
Karena itu, Lica menambahkan, sikap dan dukungan terhadap penolakan kekerasan terhadap perempuan dan anak hendaknya tidak hanya sekadar dinyatakan secara lisan. Namun juga harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dan harapannya kita mulai dari generasi muda agar berani berbicara dan melapor apabila itu terjadi pada mereka atau orang terdekatnya sehingga kekerasan terhadap perempuan bisa diminimalisir,” katanya.


Pewarta: RIVALDO
Editor: Jean Freire