Diksar Mahasiswa Pencinta Alam, Unras Utamakan Keamanan & Keselamatan

Armada
Armada Saputra

BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com– Peristiwa meninggalnya mahasiswa yang menjadi peserta pendidikan dasar (Diksar) mahasiswa pencinta alam Universitas Islam Indonesia (UII) baru-baru ini patut menjadi perhatian dan pembelajaran bagi semua pihak, terutama organisasi serupa yang ada di lembaga perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di Universitas Ratu Samban (Unras), Bengkulu Utara.

Ketua Umum Mahasiswa Pencinta Alam Ratu Samban (Marspala) Unras Armada Saputra, mengaku turut prihatin dengan peristiwa yang menimpa Mapala UII pada 21 Januari 2017. Selain menyayangkan peristiwa itu, dia juga menyampaikan bela sungkawa yang mendalam.

Ditemui sahabatrakyat.com di Sekretariat Marspala, Armada mengatakan, diksar seharusnya tidak mengedepankan kekerasan, apalagi sampai jatuh korban. Kata Armada, ada banyak pola dan pendekatan yang bisa diterapkan dalam diksar untuk menjadikan anggota Mapala bermental kuat, berkarakter, sikap rendah hati, peduli lingkungan, kesadaran akan rasa kesamaan, kebersamaan, kekeluargaan, serta pribadi yang bijak dan beradab.

“Semua ini dapat dilakukan tanpa melakukan kontak fisik,” kata dia. Di Marspala Unras, jelas Armada, pola diksar yang diterapkan adalah pola penggugahan jiwa calon anggota. “Kami Marspala Unras selalu memegang teguh kode etik dan nilai-nilai hak asasi manusia,” tutupnya.

Sugeng
Sugeng Suharto

Terpisah, Rektor Universitas Ratu Samban Arga Makmur Bengkulu Utara Dr. Sugeng Suharto, M.Si dikonfirmasi di ruang kerjanya mengatakan, tugas universitas adalah mengetahui secara persis bentuk kegiatan yang dilakukan mahasiswanya.

“Pada saat mereka melakukan kegiatan kepencinta alaman, misalnya, kita harus mengetahui kegiatan yang akan dilakukan seperti apa dan harus ada izin secara institusi,” kata dia.

Lanjut Sugeng, setiap ingin melakukan kegiatan yang sifatnya mencari pengalaman, harus mempertimbangkan situasi dan kondisi iklim. Yang tak kalah penting, harus memiliki izin secara institusi ke universitas dan izin orang tua untuk mengikuti kegiatan itu.

“Jangan sampai terobos-terobos saja, iya kegiatannya aman dan nyaman, kalau ada apa-apa akan menjadi masalah di kemudian hari. Prosedur keamanan dan keselamatan harus diutamakan,” tandas Sugeng. (MS Firman)