Dikirim Pakai Bus, Petugas Sita Paket Shabu Rp 1 Milyar

BENGKULU– Meski sudah berkali-kali terungkap, Bengkulu tampaknya masih menjadi wilayah yang masih disasar para sindikat untuk mengedarkan Narkoba. Para pelaku tampaknya mencari berbagai cara dan modus agar barang haramnya bisa masuk Bengkulu.
Seperti yang diungkap BNN dan Dit Narkoba Polda Bengkulu, baru-baru ini. Paket narkoba jenis shabu senilai Rp 1 milyar dikirim sindikat empat provinsi, yakni Bandung, Jakarta, Lampung dan Bengkulu.
Kepala BNNP Bengkulu Brigjen Pol Nugroho Aji Wijayanto mengatakan, pengungkapan ini berdasarkan hasil pendalaman informasi yang diterima dari masyarakat Bengkulu yang menyebut ada sindikat baru yang akan mengirim Narkoba dari Bogor ke Jakarta lalu ke Bengkulu.
“Pengiriman ini modus baru. Pada tanggal 15 kita dapat informasi. Kita dalami, kita selidiki dan kita simpulkan. Pada tanggal 1 April mereka kirim Narkoba menggunakan bus SAN,” kata Aji saat pers rilis, Selasa (10/8).
Kemudian, kata dia pada tanggal 2 April 2018 lalu sekira pukul 10. 30 Wib tim yang dipimpin AKBP Marlian Ansori berhasil menangkap pelaku inisial (AB) di Jalan P. Natadirdja KM. 6,5 Kota Bengkulu.
Dari penangkapan tersebut, tim berhasil mengamankan pelaku beserta barang bukti Narkotika jenis sabu seberat 5 ons atau 0,5 kilogram yang disimpan di dalam tas dan dibungkus kantong plastik bening dengan dilakban warna hitam.
Lalu setelah dikembangkan, Tim BNNP dan Ditnarkoba Polda akhirnya juga berhasil menangkap pemesan paket shabu tersebut, yakni JJ. Tsk JJ ditangkap di rumahnya di Jalan P. Natadirja KM. 6,5 Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu.
Selain tersangka, petugas juga berhasil menyita barang bukti lainnya berupa dua unit hape, buku tabungan dan kartu ATM yang diduga digunakan tersangka dalam menjalankan bisnis terlarangnya.
Pelaku disangkakan pasal 114 Ayat (2) Subsider Pasal 112 Ayat (2) lebih subsider pasal 132 undang-undang republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman minimal 6 (enam) tahun penjara dan maksimal hukuman mati.


Laporan: rri.co.id/bengkulu
Editor: Jean Freire