SINERGISITAS KELUARGA, MASYARAKAT DAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENANGANAN KASUS KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK

Oleh
Nelly Tridinanti, M.Psi., Psikolog

Kekerasan seksual merupakan tindakan yang mengarah pada ajakan seksual tanpa persetujuan. Juga termasuk tindakan seksual pada anak yang dilakukan oleh orang dewasa atau pada anak atau individu yang terlalu muda untuk menyatakan persetujuan, ini disebut dengan pelecehan seksual pada anak.

Kasus kekerasan seksual yang terjadi bagaikan fenomena gunung es dan rentetan kasus kekerasan seksual tersebut sekarang mulai muncul ke permukaan. Meningkatnya kasus kekerasan seksual tidak hanya dari jumlah banyaknya kasus, namun juga jenis kekerasan yang dilakukan semakin beragam. Maraknya kekerasan seksual khususanya pada anak menjadi PR kita bersama untuk menurunkan angka kekerasan seksual tersebut.

Anak anak memiliki resiko tinggi menjadi korban kekerasan/pelecehan seksual, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri, tidak berdaya serta memiliki ketergantuangan pada orang dewasa. Kondisi inilah yang menjadi peluang para predator anak untuk memuluskan aksi bejatnya.

Pelaku tindak kekerasan seksual anak tak jarang dilakukan oleh orang terdekat, hal ini membuat perbuatan pelaku jarang diketahui. Biasanya hanya kasus yang berat saja yang pada akhirnya muncul ke permukaan dan diketahui. Beberapa kasus juga disembunyikan oleh keluarga karena dianggap sebagai Aib keluarga, padahal ketika kita melindungi pelaku, maka sama saja kita memberikan peluang akan ada korban selanjutnya.

Seorang anak yang menjadi korban kekerasan seksual/pelecehan seksual jika tidak segera ditangani, maka akan berdampak pada perkembanganya (emosi, sosial dan perilaku). Kekerasan seksual yang dialami anak memang tidak selalu menimbulkan dampak secara langsung, akan tetapi jika tidak dilakukan pendampingan secara khusus maka akan beresiko tinggi mengalami gangguan tersebut. Oleh sebab itu anak adalah korban yang harus mendapatkan perhatian khusus dan penanganan khusus yang melibatkan keluarga, masyarakat dan pemerintah daerah untuk memulihkan luka fisik serta trauma psikisnya.

Strategi yang dilakukan harus mampu menangani dan mencegah tindak kekerasan seksual tersebut. Dalam hal ini dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak agar strategi yang dilakukan berjalan secara holistik dan komprehensif.

Telah dijelaskan di atas bahwa dampak kekerasan seksual pada anak sangatlah buruk, maka yang pertama yang harus dilakukan adalah melakukan usaha kuratif (pengobatan/penyembuhan) berupa Psikoterapi pada mereka yang telah menjadi korban keganasan predator anak yang mengalami trauma, kecemasan, depresi dan gangguan psikologis lainnya.

Tujuan dari psikoterapi yang dilakukan adalah untuk mengembalikan atau memulihkan gangguan emosi, sosial dan perilaku anak.
Selain usaha kuratif/pengobatan yang telah dilakukan, maka sangat penting juga dilakukannya usaha preventif/pencegahan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam pencegahan terjadinya kekerasan/pelecehan seksual anak adalah dengan memberikan pendidikan seksual sejak dini. Pendidikan seksual ini bisa dilakuakn oleh orang tua maupun guru disekolah atau lembaga-lembaga yang memiliki kepedulian terhadap anak. Pendidikan seksual yang diberikan tentu menggunakan metode yang tepat dan sesuai usia anak. Oleh sebab itu sangat diperlukan sinergisitas keluarga, masyarakat dan pemerintah daerah dalam menangani kasus kekerasan seksual ini.

Anak mengalami proses sosialisasi pertama adalah di dalam keluarga. Dalam keluarga anak mengenal orang tua, saudara dan mengenal dirinya sendiri. Orangtua memiliki peran penting dalam membentuk perilaku dan kepribadian anak. Mulai dari bayi, batita, balita, anak-anak, remaja, hingga dewasa. Orangtualah orang pertama yang menjadi role model /contoh seorang anak. Peran orangtua tidak hanya memberikan nafkah berbentuk materi tetapi orang tua juga harus memahami perannya dalam mendidik dan melindungi anak. Orangtua harus mampu memproteksi sejak dini pencegahan kekerasan seksual terhadap anak.

Meningkatnya kasus kekerasan merupakan salah satu bukti kurangnya pengetahuan anak mengenai pendidikan seksual yang seharusnya sudah mereka peroleh. Pendidikan seks dimaksud adalah bagaimana orantua memperkenalkan jenis kelamin anak, apa saja yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh, dampak hubungan seks usia dini dan lain sebagainya sesuai dengan usia anak-remaja. Akan tetapi persepsi masyarakat mengenai pendidikan seks yang masih menganggap tabu untuk dibicarakan bersama anak menjadi sebab yang harus dibenahi bersama.

Orangtua berperan mengawasi dan mengontrol anak. Orangtua jangan bersikap apatis terhadap perkembangan anak. Orangtua harus mengetahui perkembangan sosial, emosi dan perilaku anak (dengan siapa anak bermain, apa saja yang dilakukan anak, jam berapa anak harus pulang kerumah, kondisi emosi anak sedih atau bahagia dan perubahan perilaku anak).

Selain itu anak-anak tidak hanya menjadi tanggungjawab orangtua, tetapi semua lapisan masyarakat dituntut untuk ikut berperan aktif dalam melindungi anak anak Indonesia, tak terkecuali pihak sekolah dan lapisan masyarakat luas. Terlebih lagi lingkungan yang memiliki riwayat kekerasan seksual pada anak. Lingkungan yang dianggap aman bagi anak anak, belum tentu sebenarnya aman, karena kejahatan dilakukan karena adanya kesempatan. Oleh sebab masyarakat bersama-sama memberikan kenyamanan dan mempersempit ruang gerak para calon pelaku kekerasan seksual dengan bersama-sama peduli dan mau membuka suara, ketika melihat hal-hal yang menyimpang terjadi.

Selain itu masyarakat juga dapat melakukan upaya-upaya preventif berupa melakukan kajian-kajian seputar anak, meningkatkan kegiatan keagamaan dan mengontrol lingkungan dengan menyisir tempat-tempat sepi yang beresiko terjadi kekerasan seksual.

Selanjutnya pemerintah daerah diharapkan terus menindak tegas pelaku kejahatan/kekerasan seksual anak agar memberi efek jera pelaku dan menjadi ancaman bagi para calon pelaku lainnya. Pemerintah daerah juga diharapkan terus mendukung program-program yang berkaitan dengan usaha preventif kekerasan seksual seperti sosialisasi dan kampanye anti kekerasan khususnya kekerasan seksual pada anak dengan melibatkan orangtua, sekolah, pemerintah desa dan anak-anak. Oleh sebab itu kasus kekerasan seksual pada anak tidak bisa ditangani hanya dengan satu tangan saja, tetapi harus saling merangkul dan bersinergi baik itu keluarga, masyarakat dan pemerintah daerah.