TANJUNGPINANG — Tabligh Akbar bertema “Islam Berkemajuan” yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang, mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Kegiatan yang menghadirkan Rektor Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Dr. H. Saidul Amin, MA., tersebut berlangsung pada Kamis, 24 September 2026.
Padatnya peserta yang hadir menjadi perhatian tersendiri. Salah seorang warga yang mengikuti kegiatan tersebut menilai Tabligh Akbar kali ini menjadi salah satu kegiatan Muhammadiyah yang ramai di kawasan Kauman Muhammadiyah Tanjungpinang.
“Alhamdulillah, Subhanallah. Tabligh Akbar tanggal 24 September 2026 merupakan Tabligh Akbar terbesar dan teramai di Kauman Muhammadiyah. Ternyata PCM Muhammadiyah Tanjungpinang Timur bukan kece-kece rupanya. Saya bukan memuji, tetapi kenyataannya begitu. Muhammadiyah Tanjungpinang butuh siraman ruh Kemuhammadiyahan,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Kesbangpol Kota Tanjungpinang, Samsudi, S.Sos., M.H., yang mewakili Wali Kota Tanjungpinang. Hadir pula Camat Tanjungpinang Timur, Lurah Batu IX, serta sejumlah tokoh Muhammadiyah Kota Tanjungpinang.
Dari Tabligh Akbar ke Mimbar Jumat
Sehari setelah Tabligh Akbar, Jumat (25/9/2026), Dr. Saidul Amin kembali hadir di Masjid At Taqwa Muhammadiyah Tanjungpinang. Kali ini, ia dipercaya menjadi khatib salat Jumat.
Kehadiran Saidul Amin mendapat perhatian dari jemaah. Sejumlah pimpinan Muhammadiyah mulai berdatangan sekitar 15 menit sebelum khotbah dimulai. Di antaranya Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kepulauan Riau, Drs. H. Huzaifah Dadang AG., M.Si., Edward Mandala, Nazaruddin, M.H., Mukhtar Sujadi, Delwi Jhonsandre, Amril, dan Rauf Rahim.
Dalam khutbahnya, Saidul Amin mengajak jemaah merenungkan pertanyaan tentang penyebab kemunduran umat Islam di tengah kemajuan bangsa-bangsa lain.
Ia mengutip pemikiran Muhammad Abduh yang menyebut bahwa salah satu persoalannya adalah ketika umat Islam meninggalkan nilai-nilai Islam.
Menurutnya, Islam tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga mendorong umat untuk menuntut ilmu, bekerja keras, disiplin, menjaga persatuan, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama.
Tiga Persoalan Umat
Dalam khutbah tersebut, Saidul Amin juga menyampaikan pemikiran Muhammad Natsir mengenai sejumlah persoalan yang perlu menjadi bahan introspeksi umat Islam.
Pertama, umat Islam dinilai perlu menyadari kekuatannya. Kekuatan utama tersebut adalah tauhid dan keyakinan kepada Allah SWT yang seharusnya menjadi sumber semangat dalam perjuangan.
Menurutnya, orang yang bekerja dan berjuang karena mengharapkan rida Allah SWT tidak seharusnya mudah menyerah hanya karena tidak mendapatkan penghargaan dari manusia.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan KH Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Pesan itu mengandung makna pentingnya keikhlasan dalam berkhidmat. Organisasi dan masyarakat hendaknya menjadi ruang untuk memberikan manfaat dan menjalankan amanah, bukan semata-mata mencari keuntungan pribadi.
Kedua, umat Islam perlu memahami siapa yang menjadi tantangan, siapa yang menjadi lawan, dan siapa yang dapat menjadi kawan dalam perjuangan.
Perbedaan kepentingan, menurut materi yang disampaikan dalam khutbah, tidak seharusnya membuat sesama umat saling berhadapan. Dalam kehidupan sosial, masyarakat perlu saling menolong, menghargai, dan bertoleransi, sembari tetap memegang prinsip masing-masing dalam persoalan akidah.
Ketiga, umat Islam dinilai sudah banyak bekerja, tetapi masih perlu memperkuat kemampuan untuk bekerja sama.
Banyak individu memiliki kemampuan, kelompok memiliki sumber daya, dan organisasi mempunyai program. Namun, apabila berjalan sendiri-sendiri, potensi tersebut tidak akan menghasilkan kekuatan yang maksimal.
Karena itu, kerja sama dan kolaborasi menjadi bagian penting dalam membangun kekuatan umat.
Dorong Kolaborasi untuk Kemajuan
Semangat yang disampaikan dalam Tabligh Akbar dan khutbah Jumat tersebut menjadi momentum untuk mendorong umat Islam, khususnya di Tanjungpinang, agar terus berbenah dan memperkuat kolaborasi.
Dengan menyadari potensi yang dimiliki, memahami berbagai tantangan, serta membangun kerja sama yang baik, diharapkan dapat lahir perubahan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kemajuan, sebagaimana pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang bekerja, tetapi juga oleh kemampuan untuk bekerja bersama dalam mencapai tujuan yang baik.
Tabligh Akbar bertema “Islam Berkemajuan” pun diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan seremonial. Nilai ilmu, keikhlasan, keteladanan, kerja keras, persatuan, dan kolaborasi diharapkan dapat terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semangat tersebut, masyarakat Tanjungpinang diharapkan dapat terus bergerak menuju kemajuan, memperkuat persatuan, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. (**)








