BENGKULU — Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu mengambil langkah sigap dan terukur dalam menghadapi lonjakan ancaman siber yang meningkat tajam sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), lebih dari 36 juta serangan siber terdeteksi hanya dalam periode Oktober 2025 yang menyasar sistem dan situs web resmi milik Pemkot.
Menanggapi hal ini, Pemkot Bengkulu melalui Diskominfo mengaktifkan strategi pertahanan berlapis, salah satunya dengan membentuk BENGKULUKOTA – Computer Security Incident Response Team (CSIRT) atau BENGKULUKOTA-CSIRT, bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
“Tujuan utama tim ini adalah melakukan penanggulangan, pemulihan, dan pencegahan insiden keamanan siber secara cepat dan terkoordinasi,” ujar Kepala Bidang Penyelenggaraan E-Government Diskominfo Bengkulu, Wiwik Rahayu,
Wiwik menjelaskan, BENGKULUKOTA-CSIRT aktif melakukan pemantauan, analisis, dan pemberian peringatan dini terhadap potensi serangan siber. Tim ini juga menyiapkan bantuan teknis langsung (on-site) apabila terjadi insiden serius di lingkungan sistem informasi pemerintah daerah.
Selain penanganan teknis, Pemkot Bengkulu juga memperkuat kerangka hukum dan kebijakan keamanan siber, melalui:
- Peraturan Wali Kota (Perwal) No. 16 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Persandian untuk Pengamanan Informasi
- Perwal No. 17 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Sertifikat Elektronik
Kedua regulasi ini menjadi dasar hukum bagi Pemkot dalam menjamin kerahasiaan, keaslian, dan keutuhan data digital pemerintahan.
BENGKULUKOTA-CSIRT menerapkan pendekatan menyeluruh dalam penguatan keamanan siber, mencakup tiga aspek utama:
-
Aspek Teknis dan Preventif
-
Pembaruan rutin (patching) terhadap perangkat lunak.
-
Analisis kerentanan untuk mendeteksi celah keamanan lebih dini.
-
Hardening system sebagai langkah perlindungan dari serangan seperti SQL Injection dan Web Defacement.
-
-
Pengamanan Data
-
Penerapan sertifikat elektronik untuk enkripsi komunikasi digital.
-
Implementasi backup data offline/offsite guna mempercepat pemulihan pasca-serangan.
-
-
Aspek SDM dan Kebijakan
-
Peningkatan kesadaran siber (cyber awareness) bagi seluruh ASN melalui workshop dan pelatihan.
-
Aktivasi penuh struktur respons insiden CSIRT agar penanganan serangan berjalan cepat dan terkoordinasi.
-
Pengawasan lalu lintas jaringan untuk mendeteksi anomali dan serangan DDoS secara real-time.
-
“Ini adalah kerangka kerja yang solid, mencakup pencegahan, deteksi, respons, dan pemulihan, didukung oleh kebijakan serta SDM yang teredukasi. Strategi ini selaras dengan praktik terbaik keamanan informasi global,” tegas Wiwik.
Berdasarkan catatan BENGKULUKOTA-CSIRT, serangan yang paling sering terdeteksi meliputi:
- Web Defacement, yaitu peretasan tampilan situs web yang mengubah konten menjadi tidak semestinya.
- DDoS (HTTP Flood Layer 7), yaitu serangan siber yang mengirimkan permintaan palsu secara masif hingga menyebabkan akses situs lambat (low speed access) atau bahkan tidak dapat diakses.
Melalui aktivasi BENGKULUKOTA-CSIRT, Pemkot Bengkulu menegaskan komitmennya dalam melindungi data dan layanan digital publik. Upaya ini sekaligus memperkuat posisi Bengkulu sebagai kota yang tangguh terhadap ancaman siber, sejalan dengan program nasional keamanan informasi yang digagas BSSN. (**)








