
BENGKULU, sahabatrakyat.com– Anggota DPR RI Mohammad Saleh kembali menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di daerah pemilihannya Provinsi Bengkulu.
Kali ini pesertanya adalah para mahasiswa yang tergabung dalam Mapancas (Mahasiswa Pancasila) Wilayah Provinsi Bengkulu. Acara yang diselenggarakan di Gedung Sebaguna Pemprov Bengkulu, Selasa (4/2/20), dipadati sekitar 200 mahasiswa.
Dalam kesempatan tersebut, Anggota Fraksi Golkar ini menyoroti fenomena maraknya kemunculan kerajaan dan keraton baru di berbagai pelosok Nusantara.
“Saya tidak habis pikir, mengapa belakangan ini banyak bermunculan orang-orang yang mengaku sebagai raja atau pewaris kerajaan klasik di Nusantara. Yang saya prihatinkan, banyak di antara mereka yang melakukan klaim-klaim fantastis. Seperti memiliki akses ke Bank Swis untuk mencairkan Dana Revolusi peninggalan Presiden Sukarno,” pria kelahiran Rejang Lebong mengawali paparannya.
Lebih lanjut, anggota Komisi VIII itu meminta mahasiswa untuk menjadi katalisator untuk menyelamatkan masyarakat dari kemungkinan dampak negatif maraknya fenomena tersebut.
“Mahasiswa adalah kaum terdidik dan terpelajar. Harus mampu mengawal masyarakat dalam menyikapi fenomena ini. Hal ini penting karena faktanya di sejumlah daerah ditemukan pungutan dalam jumlah yang bervariasi kepada orang-orang yang ingin menjadi pengikut kerajaan-kerajaan tersebut. Di sinilah peran penting mahasiswa. Kawal masyarakat agar tidak terjerumus ke dalam pengaruh negatif kerajaan-kerajaan fiktif yang sebenarnya adalah modus baru penipuan,” ujarnya yang disambut tepuk tangan mahasiswa.
Acara ini mendapat respon positif dari para mahasiswa. Mereka sangat antusias dengan paparan Mohammad Saleh. Oleh karena itu, ketika dibuka sesi tanya jawab, banyak sekali mahasiswa yang mengacungkan tangan. Moderator bahkan sampai kesulitan untuk mengatur lalu lintas dialog antara mahasiswa dengan wakil mereka di Senayan tersebut.
Salah satu pertanyan yang menarik diutarakan oleh Fikri, mahasiwa Universitas Bengkulu yang menanyakan tentang kemungkinan adanya operasi intelejen yang menunggangi fenomena munculnya raja-raja fikif tersebut untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari sejumlah isu megakorupsi yang merugikan negara dalam jumlah fantastis.
Menanggapi pertanyaan ini, Mohammad Saleh mengatakan bahwa terlepas dari semua spekulasi liar yang berkembang, tugas utama mahasiswa sebagai kaum yang berpendidikan adalah menyelamatkan masyarakat dari potensi penipuan berkedok kerajaan baru. “Masyarakat kita mudah terpancing dengan isu pencairan dana revolusi. Mereka kemudian diminta menyetor sejumlah uang. Nah, di sinilah peran mahasiswa untuk menyadarkan masyarakat bahwa dana itu tidak ada. Kawal mereka agar tidak mudah ditipu,” pungkasnya. (JF)








