
BENGKULU– Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu merilis hasil kajian ekonomi Bengkulu triwulan II 2016 tumbuh 5,41%, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 5,00%. Pada triwulan II 2016, pertumbuhan ekonomi Bengkulu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Sumatera (4,49%) maupun Nasional (5,18%).
Di sisi permintaan, ekspansi fiskal daerah yang meningkat cukup signifikan khususnya pada pos belanja pegawai terjadi tepat disaat ekspektasi konsumsi masyarakat meningkat menghadapi Ramadhan dan Tahun Ajaran Baru. Kondisi ini mendorong Konsumsi Rumah Tangga dan Konsumsi Pemerintah tumbuh cukup signifikan. Sementara di sisi penawaran, pergeseran musim panen tabama dan peningkatan produksi TBS paska kenaikan harga CPO mendorong sektor pertanian dan industri pengolahan tumbuh cukup optimis.
Keuangan Pemerintah
Realisasi pendapatan terhadap pagu Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi Bengkulu pada triwulan II 2016 lebih tinggi dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan bersumber dari Pendapatan Asli Daerah. Realisasi pendapatan pada triwulan II 2016 mencapai 47,15%, sementara pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya mencapai 43,24%.
Tekanan inflasi pada triwulan II 2016 menurun. Tekanan inflasi di Provinsi Bengkulu pada triwulan II tahun 2016 sebesar 5,47% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,93%. Kondisi ini didorong oleh menurunnya tekanan inflasi yang cukup signifikan pada kelompok volatile foods.
Sementara itu, realisasi belanja juga mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi pada triwulan II 2016 mencapai 30,01%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 26,17%. Kenaikan serapan belanja daerah juga tercermin dari belanja APBN yang tercatat sebesar 51,20%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 42,19%.
Menurunnya tekanan inflasi kelompok volatile foods didorong oleh kecukupan pasokan dan tidak terlepas dari upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) selama Ramadhan.
Sementara itu, inflasi kelompok administered prices mengalami tekanan yang cukup tinggi, bersumber dari kenaikan Tarif Angkutan Udara dan Tarif Air Minum PAM.
Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan triwulan II 2016, inflasi Bengkulu tercatat sebesar 3,62%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis inflasi selama 5 tahun terakhir (2011-2015) sebesar 3,33 %. Inflasi Provinsi Bengkulu pada triwulan II 2016 berada di atas inflasi nasional (3,45%) maupun rata-rata inflasi Sumatera (3,71%) serta berada di luar sasaran inflasi nasional tahun 2016 (4 ± 1%). (cw5)







