Camat Enggano dan unsur Tripika setempat saat sidak ke SPBU/ist

BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com–  Tak cuma di wilayah Kota Bengkulu dan sejumlah daerah lain yang sempat bahkan sesekali masih diwarnai antrian panjang di SPBU.

Kondisi serupa juga dikabarkan terjadi di Kecamatan Enggano, terutama untuk BBM jenis solar bersubsidi. Ada warga yang juga pelaku usaha di sana mengaku solar sempat langka. Bahkan ada indikasi permainan oknum tertentu untuk mengeruk keuntungan.

Kepada sahabatrakyat.com, salah seorang warga di Desa Kahyapu bernama Amri bercerita saat akan membeli solar untuk kebutuhan usahanya, ia malah tak kebagian.

Petugas SPBU, kata Amri, mengaku mendapat SP atau surat peringatan dari kantor lantaran ketahuan mengeluarkan minyak sebanyak 4 ton.

“Kenapa saya mau beli 1 ton tidak bisa, sedangkan yang beli 4 ton bisa,” tanya Amri kepada oknum karyawan SPBU itu. “Pihak SPBU menerangkan tidak boleh pakai drum karena sesuai aturan. Dimana aturan yang disampaikan pengelola SPBU ini, sebelum pihak kecamatan turun sidak ke SPBU,” ujar Amri.

Menurut Amri, sejauh ini  pihak Kecamatan biasa-biasa saja. “Adem-adem saja tidak ada langkah-langkah kongkrit, apa menggelar rapat terlebih dahulu atau apa,” imbuhnya.

Amri berharap kedepan masyarakat ini dibantu, sesuai kebutuhan masyarakat, jangan ada pilih kasih dan dijual sesuai dengan HET. Jangan menjual di atas HET.

Sementara Zakaria, warga Meok selaku pelaku UMKM dan PNS di Kecamatan Enggano mengatakan, BBM memiliki acuan seperti HET. “Hal ini bukan untuk kita sangkal artinya ini bukan mau dijadikan masalah untuk masyarakat, tetapi selaku penentu kebijakan kalau sudah ada suara-suara seperti ini, itu yang disebut peduli dan peka, fasilitasi, musyawarah duduk bersama masalahnya dimana, untuk meluruskan agar persepsi dan pemahaman itu tidak menjadi suatu permasalahan yang besar, bila nanti sudah menjadi permasalahan secara hukum imbasnya lagi masyarakat yang menjadi korban.”

“Kita ingin jangan selalu menyepelehkan hal yang kecil agar tidak jadi besar, ambil langkah apa susahnya duduk bersama, dimana titik masalahnya, pembenahannya seperti apa yang  paling penting tidak lari dari ketentuan aturan yang sudah mengatur tentang penyaluran distribusi BBM tersebut di Enggano.”

“Karena ini disuarakan terus menerus makanya BBM sekarang ini ada, tetapi sebelum-sebelumnya satu minggu itu sudah langka, tiba-tiba ketika kapal mau masuk lagi akan ada BBM baru mulai keluar harga 15 ribu sampai 20 ribu di eceran, terkadang sudah mutar-mutar dan bingung baru dapat. Kalau bicara langka atau tidak langka BBM itu ada kalau sekarang, mungkin kalau tidak dibicarakan secara mendasar mungkin BBM itu sudah tidak ada,” terang Zakaria.

Sejauh ini apakah pihak kecamatan pernah menggelar rapat untuk mencari solusi?

“Sampai hari ini tidak ada, hanya sidak sekitar satu minggu yang lalu,” terangnya.

“Harapan ke depan sebagai masyarakat jujur saya sampaikan, saya tidak menyalahkan siapa-siapa tetapi dengan adanya hal seperti ini coba ada langkah-langkah, solusi agar masyarakat tidak resah, sudah seperti ini jangan lagi dibuat bingung masyarakat.

“Bila tidak menyalahi saya sebagai masyarakat untuk mengundang untuk memfasilitasi itu, tujuannya bukan mencari masalah, agar masalah ini selesai jangan sampai ada persepsi pemahaman kemana-mana” jelasnya.

“Mengenai pembelian BBM sebanyak 4 ton, kalau hal-hal seperti itu saya tidak bisa mengatakan ada atau tidak, saya bisa mengatakan itu apabila saya melihat pengambilan BBM tersebut, kalau isu itu sempat saya dengar hanya isu tersebut kebenarannya belum bisa kita katakan iya atau tidak.”

“Terlepas ada atau tidaknya hal itu, permasalahan sekarang ini harus ada tindakan kongkrit, apa susahnya kita duduk bersama, itu BBM langka dimana, ini apa masalahnya, sehingga pemahaman-pemahaman yang ada ini, jangan masyarakat yang menjadi imbas”, katanya.

“Kalau sekarang ini kita lihat benar BBM itu ada. Kalau sekarang. Karena dibahas dan menjadi tranding. Yang menjadi pertanyaan dan membuat masyarakat menjadi bingung, sekarang yang BBM subsidi itu mana ? Kalau memang subsidi penghitungan kuoatanya dari mana,? Saya rasa dari kebutuhan masyarakat kalau ada penggunaan diluar itu apakah itu tidak menyalahi? Yang sebelumnya kapasitas penggunaan setiap hari dihitung setiap bulan kebutuhan masyarakat itu mestinya dimusyawarahkan terlebih dahulu agar permasalahan ini selesai dan tidak  ada persepsi-persepsi yang mengorbankan satu dengan yang lain dan menuju sesuai ketentuan yang diatur dalam penyaluran itu.”

Zakaria menegaskan, jangan sampai juga ada yang menyalah artikan karena ini ada pembangunan di Enggano mulai cari-cari masalah, ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan itu, yang kita harapkan dalam hal ini kalau ada yang melakukan atau memfasilitasi pertemuan duduk bersama mencari solusi saya siap.

“Saya dari masyarakat, kalau bicara dari kecamatan staf pemerintahan kecamatan, saya orang kecamatan tapi kalau bicara secara masyarakat saya juga masyarakat kalau nanti saya harus melakukan itu atas nama pemerintahan kecamatan apa tidak lucu, saya ini bukan camat, saya hanya staf tetapi kalau saya harus memfasilitasi itu dari masyarakat saya atas namakan pelaku UMKM dari Karya Mandiri yang ada di Desa Meok, saya siap.” tutupnya.

Warga lainnya, Bambang mengatakan, sebelum adanya SPBU ini penjualan BBM di Enggano dikelola oleh koperasi. “Dari saat itu saya sudah menggunakan, membeli solar untuk kebutuhan usaha yang dijalani hingga saat ini. Dengan adanya kesepakatan bila BBM datang masyarakat antri, menggunakan jerigen boleh, menggunakan drum boleh bahkan ada yang menggunakan avicii tadmond, termasuk semua BUMDes juga mengambil, tidak ada masalah, dengan ketentuan melayani terlebih dahulu masyarakat kecil yang menggunakan jerigen. Bagi yang menggunakan drum, avicii tadmond setelah tiga hari baru boleh dilayani. Dan itu tidak ada masalah. Bahkan BBM jenis solar berlebih dan tidak pernah kekurangan. Hal ini sudah berjalan bertahun-tahun,” ungkap Bambang yang merupakan warga Kahyapu.

Ia mengatakan, pengguna solar di Enggano ini bisa dihitung dengan jari. Namun setelah ada proyek pembangunan di Enggano, yang dahulunya tidak pernah kekurangan ada kegiatan proyek berbarengan dengan informasi akan naiknya BBM saya mau membeli solar ternyata solar tersebut habis, saya tahu solar itu ada karena dua hari lagi mau naik, dia bilang habis, saya pun memaklumi hal itu.”

“Saya mendapatkan informasi, tahu-tahu solar itu ada dan dijual kepada orang yang tidak biasa mengambil solar dengan skala banyak. Kabarnya seperti itu, untuk kebenarannya saya tidak mengetahui persis dan saya tidak mempermasalahkan hal itu.”

Bambang menjelaskan sudah beberapa kali BBM masuk, sekira tiga minggu BBM solar yang saya pesan kepada pegawai SPBU itu, ternyata pesanan saya tidak ada dengan alasan sudah habis padahal baru beberapa hari BBM itu masuk lagi, saya merasa ada yang aneh, siapa yang memakai solar di Enggano, biasanya selalu tercukupi bahkan berlebih untuk kebutuhan masyarakat.

Kemudian berkomunikasi dengan pimpinan SPBU yang berada di Bengkulu, alhamdulillah dibantu dengan harga 10 ribu per liternya, karena saya membutuhkan solar untuk usaha saya, akhirnya saya bayar dengan harga yang tidak wajar 1000 liter seharga 10 juta.

Saat isu solar ramai dibincangkan, lanjut Bambang, camat respon. “Karena pada waktu itu camat berada di Bengkulu. Keesokan harinya camat pulang ke Enggano dan akan menggelar rapat, tahu-tahu camat melakukan sidak, dan tidak diadakan rapat dengan pihak SPBU bersama masyarakat”

Dengan diadakan rapat kita ingin menciptakan Enggano ini damai. Ada permasalahan cepat diselesaikan jangan ditarik ulur yang tidak berujung seperti ini, bagaimana nasib kami masyarakat hari esok dan ke depannya yang memiliki usaha membutuhkan solar, bagaimana tanya Bambang.

Harapan saya terkait BBM solar, harapan kami tidak banyak, kami menginginkan kedamaian seperti dulu, BBM solar tidak ada masalah, bila ada masalah seperti ini segera diselesaikan, kami berharap kepada pengambil kebijakan untuk lebih bijak berpihak kepada masyarakat dan mengedepankan kebutuhan masyarakat.

Aman Terkendali

Camat Enggano Susanto, S.Pd membatah kabar kelangkaan BBM di Enggano. Ia menegaskan stok aman dan terkendali.

“Masyarakat ini banyak, ada masyarakat yang betul-betul riil apa adanya. Ada masyarakat yang bisanya membuat polemik mau menggiring opini BBM langka, ”ucap Camat, Rabu (5/10/2022).

“Beberapa hari yang lalu opini itu sudah berkembang. Kami unsur Tripika langsung mengecek ke SPBU ternyata BBM untuk 10 hari ke depan masih aman pertalite dan minyak tanah.”

‘BBM jenis solar 10 ton sekali pengiriman, saat ini masih ada 5 ton lagi, itu juga masih cukup aman digunakan untuk masyarakat Enggano, tetapi yang menjadi permasalahan BBM solar itu memang kemarin-kemarin silakan 1 atau 2 orang mengambil ada yang 2 ton ada yang 3 ton, sekarang sudah tidak boleh lagi, karena yang tidak memperbolehkan itu aturan.

Disinggung indikasi menjual ke proyek-proyek, Camat menyampaikan, “Kita sudah bicarakan terkait opini-opini itu dan kami juga mengharapkan kepada pihak TNI-Polri jangan ada  yang bermain-main dengan minyak subsidi untuk dijual ke perusahaan.”

Terkait isu salah satu pejabat pemerintahan desa mengambil 4 ton, camat membatah. Katanya, kalau memang benar tunjukkan dengan bukti, laporkan ke Polsek dan proses secara hukum. Kalau memang ada bukti, jangan kita menyampaikan informasi-informasi menyudutkan individu-individu tertentu dan kelompok-kelompok tertentu tetapi tidak bisa dibuktikan.”

“Kenapa opini itu bisa timbul karena ada oknum atau kelompok tertentu yang sengaja membuat kegaduhan di Enggano, membuat opini minyak sudah langka tetapi kenyataannya, saya jamin bersama unsur Tripika bersama pihak SPBU minyak aman untuk masyarakat tetapi pengisian menggunakan drum atau jerigen itu khusus untuk solar tidak diperbolehkan karena apa, di Enggano ini ada proyek-proyek nasional yang masuk ke Enggano ada dua pelabuhan dan ada proyek nasional jalan dan proyek PDAM”, terangnya.

Camat juga menepis informasi BBM dijual di atas HET. “Untuk harga jual sama dengan SPBU lainnya yang ada diluar,” tutup Camat. (MS Firman)