Oleh: Tuan KeMe
LEBONG – Ada masa di mana seorang pemimpin diuji bukan saat ia duduk di kursi kekuasaan, tetapi saat ia memilih untuk melepaskannya.
Kopli Ansori, Mantan Bupati Lebong, telah menunjukkan ujian itu dengan cara yang paling elegan. Keputusan beliau untuk tidak lagi mencalonkan diri bukanlah tanda berakhirnya pengabdian. Justru sebaliknya. Itu adalah cermin kedewasaan politik, kerendahan hati, dan cinta yang tulus kepada Bumi Swarang Patang Stumang.
Selama masa kepemimpinan, nama Kopli Ansori melekat pada kerja nyata. Jabatan dipandang sebagai amanah, bukan sebagai mahkota. Rakyat diposisikan sebagai tujuan, bukan sebagai alat. Dalam setiap kebijakan, yang dicari adalah manfaat, bukan pencitraan.
Kini, ketika roda demokrasi menuntut estafet baru, beliau memilih memberi ruang. Sebuah sikap yang hari ini terasa langka. Mundur bukan karena tidak mampu, tetapi karena yakin bahwa kemajuan daerah jauh lebih penting daripada mempertahankan jabatan.
Lebong akan selalu mengingat jejak itu. Jalan-jalan yang terbuka, program yang menyentuh desa, dan cara seorang pemimpin menyapa rakyatnya tanpa sekat.
Terima kasih, Pak Kopli.
Sejarah akan mencatat dengan tinta terhormat: pernah ada seorang Bupati yang datang untuk mengabdi, bekerja dengan hati, dan pergi dengan meninggalkan teladan.
Lebong, 14 Agustus 2026
—Merdeka—-






