LEBONG – Saat sebagian besar warga Kabupaten Lebong masih terlelap di tengah malam yang diguyur hujan, seorang pria tetap terjaga di balik deru air bendungan. Tangannya sibuk memantau debit sungai, matanya awas mengawasi setiap perubahan arus yang berpotensi membawa ancaman bagi masyarakat di hilir.
Pria itu adalah Dovi Febri Yenzi (32).
Bagi masyarakat Lebong, nama Dovi bukanlah sosok asing. Ia bukan pejabat, bukan pula tokoh publik. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, wajah dan suaranya akrab di beranda media sosial warga. Dari kawasan bendungan PT Mega Power Mandiri (MPM), Dovi kerap membagikan informasi kondisi Sungai Ketahun melalui siaran langsung maupun unggahan di akun Facebook pribadinya.
Ketika hujan turun deras dan kekhawatiran banjir mulai menghantui warga, banyak mata tertuju pada informasi yang dibagikan Dovi. Baginya, laporan ketinggian air bukan sekadar rutinitas pekerjaan, melainkan bentuk kepedulian agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan lebih dini.
Salah satu unggahan terakhirnya yang masih tersimpan di media sosial menjadi saksi kepedulian itu.
“Dari bendungan PLTA Lebong menginformasikan Air Ketahun meluap. Semoga saudara-saudara kita yang ada di hilir terjaga dini hari ini,” tulisnya pada 7 Mei 2026.
Kalimat sederhana tersebut kini terasa begitu bermakna. Sebab, pria yang selama ini mengingatkan masyarakat akan bahaya banjir itu justru berpulang ketika sedang menjalankan tugas menjaga aliran air yang sama.
Dovi merupakan karyawan senior PT MPM yang telah mengabdi sejak tahun 2015. Selama sekitar 11 tahun bekerja, ia dikenal rekan-rekannya sebagai pribadi setia, pekerja keras, dan humoris. Di lingkungan kerja, ia adalah sosok yang mudah bergaul dan selalu siap membantu.
Di rumah, Dovi adalah kepala keluarga. Ia meninggalkan seorang istri, Luci Cucilian Sari, serta tiga orang anak yang masih menempuh pendidikan. Kehilangan ini bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi juga bagi banyak warga yang mengenalnya sebagai penjaga informasi saat ancaman banjir datang.
Jumat dini hari, 5 Juni 2026, Dovi memulai rutinitas kerjanya seperti biasa. Sekitar pukul 00.05 WIB, ia memasuki area bendungan PT MPM untuk menjalani shift malam seorang diri.
Data yang diperoleh menunjukkan bahwa selama bertugas, Dovi masih aktif mengirim laporan operasional ke Grup WhatsApp Produksi PT MPM. Sedikitnya delapan laporan dikirimkan hingga pukul 07.06 WIB.
Tak ada tanda-tanda bahwa pagi itu akan menjadi akhir dari pengabdiannya.
Beberapa saat kemudian, rekan kerja kehilangan kontak dengannya. Padahal, salah satu saringan intake yang menjadi bagian dari pekerjaannya diketahui telah terangkat dan siap dibersihkan. Ketika lokasi diperiksa melalui kamera pengawas, Dovi sudah tidak terlihat.
Kepanikan pun mulai muncul.
Di sekitar lokasi kerja hanya ditemukan sepasang sepatu dan sebuah ember yang biasa digunakannya untuk membersihkan sampah di area bendungan. Rekan-rekan kerja kemudian melakukan pencarian.
Harapan agar Dovi segera ditemukan dalam keadaan selamat perlahan memudar ketika jasadnya ditemukan tersangkut di saringan nomor 1 Headpond PT MPM, sekitar satu kilometer dari lokasi awal yang diduga menjadi titik hilangnya korban.
Saat ditemukan, tubuh Dovi berada dalam posisi telungkup di atas saringan.
Kabar itu menyebar cepat. Warga yang selama ini mengenal Dovi melalui informasi-informasi banjir yang ia bagikan turut berduka. Sosok yang selama ini berdiri di garis depan memantau aliran sungai kini telah tiada.
Peristiwa tersebut juga memunculkan berbagai pertanyaan mengenai aspek keselamatan kerja. Berdasarkan informasi yang berkembang, korban ditemukan tanpa perlengkapan keselamatan kerja yang semestinya digunakan saat bekerja di area berisiko tinggi, seperti helm, body harness, maupun sepatu safety.
Aparat kepolisian saat ini masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kejadian dan memastikan apakah terdapat unsur kelalaian dalam pelaksanaan prosedur keselamatan kerja.
Hingga kini, manajemen PT MPM belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut.
Namun di luar proses hukum dan investigasi yang masih berjalan, satu hal yang tak terbantahkan adalah jejak pengabdian Dovi kepada masyarakat Lebong.
Ia mungkin bukan tokoh besar yang namanya tercatat dalam buku sejarah. Namun bagi warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Ketahun, Dovi adalah sosok yang selalu hadir di tengah malam, mengabarkan kondisi air, memberi peringatan, dan membantu masyarakat bersiap menghadapi ancaman banjir.
Kini suara itu telah berhenti.
Namun dedikasi dan kepeduliannya akan terus mengalir, sebagaimana Sungai Ketahun yang selama ini ia jaga. (Aan)









