JUNGKU

kredit: FB Harry Siswoyo

“Dimana ada jungku. Disitu ada dusun,” kata Saidi lantang. Suaranya nyaris mengalahkan kawanan hujan yang terantuk seng hitam di atas rumah panggung berkayu tenam tempat kami duduk bersila malam itu.

Saidi. Usianya sudah lewat 70 tahun. Malam itu, ubannya menyembul di balik peci hitam kusam. Bibirnya menekuk ke dalam karena giginya telah habis diteguk zaman. Ia selalu berbicara dengan keras. Lantaran pendengarannya memang sudah kurang baik lagi.

Tapi di balik itu. Saidi bukan lelaki senja biasa. Ia adalah Jungku terakhir di Desa Lubuk Resam. Petuahnya lebih berpengaruh ketimbang instruksi kepala desa atau dusun yang berkuasa.

Jungku. Di beberapa dusun yang didiami Suku Serawai. Cukup sulit ditemukan. Karena sebagian besarnya telah tutup usia. Sementara keberadaan para jungku ini menjadi semacam jembatan penghubung mengenai sejarah dan cerita mengenai pranata adat.

Dari cerita Saidi. Jungku bagi orang Serawai pada masa lampau. Mirip dengan Tuwei Kutei di Suku Rejang. Ia tak ubahnya seorang hakim desa yang memiliki kearifan dan berbudi pekerti baik. Termasuk pula menjadi semacam penentu untuk urusan masyarakat terkait pertanian, celaka, musibah, dan lain-lain.

Lalu siapa yang mengurusi urusan pemerintahan? Bagi orang suku serawai. Tugas ini akan diemban oleh Pengawo. Namun tetap akan berpedoman dengan petunjuk dari jungku dan sebuah lembaga bernama Sakunam yang tak lain kumpulan dari para jungku di setiap dusun.

***
Baidewei… Di luar itu. Tentu cerita para jungku ini masihlah sebagian kepingannya saja dan masih sangat mungkin masih abu-abu. Sebab ada banyak sekali cerita yang belum tersingkap.

Hayoo..yang tahu cerita mengenai para jungku ini. Boleh lah berbagi ke saya. Dengan gembira dan takjub saya ingin mendengar ceritanya.


Penulis: HARRY SISWOYO