Oleh: Sabar Ardiansyah, SST

JAGAT Indonesia semakin ramai beberapa pekan terakhir. Baru saja berakhir cerita tentang Keraton Sejagat, muncul lagi cerita lebih heboh, “Sunda Empire”. Berita terakhir, petinggi Sunda Empire, Raden Rangga atau Raden Rangga Sasana atau HRH Rangga menyampaikan klaim tentang sejumlah tokoh dunia. Mulai dari Jack Ma, Bill Gates, Ratu Inggris Ratu Elizabeth II, hingga istri Presiden AS Donald Trump, Melania Trump.

Soal Jack Ma dan Bill Gates, Raden Rangga menyebut keduanya sebagai pembina Sunda Empire. Dia mengklaim dua tokoh itu memberikan arahan kepada Sunda Empire terkait banyak hal diantaranya soal keuangan.

“Otomatis, dia (Jack Ma) gabung sama kami sama Bill Gates. Kami anggap jadi Pembina dalam pembuatan empire system,” ujar Raden Rangga saat berbincang dengan detikcom, Selasa (21/1/2020) malam.

Eh, sebenanrnya ada loh bahasan yang lebih asyik tentang istilah Sunda. Tak kalah hebat lagi. Ya, “Sunda Plate”. Apa itu Sunda Plate???

Sunda plate atau Lempeng Sunda adalah sebuah lempeng tektonik yang berlokasi di Asia Tenggara dan umumnya dianggap sebagai bagian dari Lempeng Eurasia. Lempeng Sunda mencakup Laut Cina SelatanLaut Andaman, bagian selatan dari Vietnam dan Thailand bersama-sama dengan Malaysia dan pulau-pulau KalimantanSumatraJawa, serta Sulawesi di Indonesia, dan juga barat daya kepulauan FilipinaPalawan serta Kepulauan Sulu.

Di Timur, Lempeng Sunda berbatasan dengan Sabuk FilipinaZona Tumbukan Laut MalukuLempeng Laut MalukuLempeng Laut Banda serta Lempeng Timor.  Di bagian selatan dan barat berbatasan dengan Lempeng Australia. Salah satu batas pertemuannya adalah zona subduksi di pantai barat Sumatera dan selatan Jawa.

Nah, di bagian utara sunda plate berbatasan dengan Lempeng BurmaLempeng Eurasia; dan Lempeng Yangtze.

Batas-batas di bagian timur, selatan dan barat Lempeng Sunda sangat rumit secara tektonik dan aktif secara seismik. Hanya batas bagian utara yang relatif diam.

Memang sih, tidak ada hubungan sama sekali antara cerita Sunda Empire dan Sunda Plate. Aji mumpung aja, mumpung Sunda Empire lagi naik daun. Apa salahnya kita angkat cerita sunda plate supaya mengingatkan kembali bahwa kita hidup berdampingan dengan zona gempabumi.

Sejarah dan Potensi Gempa Besar Sunda Plate

Gempa dahsyat yang terjadi di Aceh, 26 Desember 2004 merupakan salah satu gempa yang dibangkitkan oleh lempeng subduksi perbatasan Lempeng Sunda Indo-Australia. Gempa dengan kekuatan M 9,3 ini menewaskan tidak kurang dari 230.000 jiwa di 14 negara dan menenggelamkan sejumlah pemukiman pesisir. Gempa dan tsunami ini merupakan salah satu bencana alam paling mematikan sepanjang sejarah. Indonesia adalah negara yang dampaknya paling parah selain Sri Lanka, India, dan Thailand.

Gempa Bengkulu tahun 2000 dan 2007 juga merupakan gempa yang diakibatkan oleh subduksi batas Lempeng Sunda. Gempa Bengkulu ini tidak kalah dahsat, setidaknya 94 orang tewas akibat gempa tahun 2000.  Lebih dari 1.000 orang luka-luka dan sedikitnya 15.000 rumah rusak berat, dan 29.940 rusak ringan, gedung-gedung sekolah juga runtuh di mana 566 gedung TK, 418 SD, 81 SLTP, dan 31 SLTA di samping 13 gereja, 377 masjid, tiga pura, 35 puskesmas, 68 puskesmas pembantu dan lain-lain.

Masih banyak sejarah gempa besar yang bangkitkan oleh Lempeng sunda ini. Pada tahun 2006  gempa Bumi berkekuatan M 6,8  yang melanda pulau Jawa pada 17 Juli 2006, pukul 15.19 WIB. Pusat gempa berada di Samudera Hindia lepas pantai  Jawa Barat, berjarak sekitar 225 Km Barat Daya Kabupaten Pangandaran. Gempa bumi ini menyebabkan tsunami setinggi 5 meter yang menghancurkan rumah di pesisir selatan Jawa, menewaskan setidaknya 668 jiwa.

 

 

Gambar 1. Lempeng Sunda (Sunda Plate).

Potensi Gempa Kuat Sunda Plate

Merujuk “Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017”, khusus wilayah Sunda Plate setidaknya terdapat sepuluh segmen subduksi yaitu “Megathrust Mentawai-Pagai, Megathrust Enggano, Megathrust Aceh-Andaman,  Megathrust Nias-Simeulu, Megathrust Batu, Megathrust Mentawai-Siberut, Megathrust Selat Sunda, Megathrust West-Central Java, Megathrust East Java, Megathrust Sumbawa ”.

Megathrust artinya suatu wilayah dengan tatanan tektonik/lempeng luas yang memiliki mekanisme pergerakan rata-rata adalah sesar naik. Banyak gempa besar dengan kedalam dangkal serta jenis pergerakan sesar naik terjadi pada wilayah ini. Dari sejarah gempa, memang terbukti daerah ini di dominasi oleh gempa dengan mekanisme sesar naik.

Tiap-tiap Megathrust di atas memiliki potensi kekuatan maksimum yang berbeda-beda. Misalnya saja Megathrust Enggano Potensi Kekuatan maksimum gempa bumi adalah M8,4. Berbeda lagi dengan Megathrust Aceh-Andaman memiliki potensi paling besar yaitu M9,2. Megathrust Mentawai-Pagai memiliki potensi M8,9. Sedangkan Megathrust Selat Sunda memiliki Potensi gempa dengan kekuatan M8,7.

Gambar 2. Zona Subduksi di Indonesia.

Zona Subduksi, Mitigasi Kita Masih Tertinggal

Harus jujur dan mau mengakui bahwa pada wilayah pesisir pantai kegiatan mitigasi kita masih jauh tertinggal. Bandingkan saja dengan Chili. Chili boleh dilirik bila bicara mengenai persiapan mengantisipasi bencana. Negara di Amerika Selatan ini dihadapkan dengan kondisi alam yang mirip Indonesia : rawan bencana.

Seperti Indonesia pula, Chili dilewati “Cincin Api”. Kawasan Cincin Api tempat tumbuh gunung aktif. Pun lokasi subur gempa bumi dunia. Namun, berkat mitigasi terukur, Chili lebih siap menghadapi gempa bumi.

Misal saja pada 2014, gempa dengan kekuatan M=8,2 mengguncang pantai utara Chili dan memicu tsunami. Untungnya mereka sudah menyiapkan diri. Adanya deteksi dini tsunami membuat sekitar satu juta orang dipindahkan ke lokasi aman. Deteksi dini dan persiapan bencana itu merupakan pelajaran yang dipetik dari gempa 2010 dengan kekuatan M=8,8 dan tsunami yang mengikutinya.

Kemudian pada 2015, ketangguhan mitigasi Chili kembali diuji dengan gempa berkekuatan M=8,5 di daerah Coquimbo, gempa ini memicu tsunami dengan ketinggian 4,5 meter. Korban jiwa tetap ada, namun hanya 9 orang saja. Sangat sedikit jika dibandingkan dengan gempa Palu, Sulawesi Tengah 2018 lalu dengan kekuatan M=7,4 korban jiwa mencapai 2.045 orang serta ratusan orang dinyatakan hilang tersapu tsunami (www.bbc.com).

Apa yang membedakan? Jawabannya adalah persiapan yang matang. Pada satu momen, tim penyelamatan dari Peru, El Savador, Amerika Serikat, dan Spanyol tergabung dalam simulasi bertajuk simex 2015 di Santiago, ibu kota Chili. Dalam latihan tersebut digelar pula simulasi jika Chili diguncang gempa dengan kekuatan M=9,0 berpusat di Santiago.

Dan itu bukan latihan sekali jalan. Dalam skala luas, warga dibiasakan melakukan simulasi (drill) evakuasi minimal enam atau tujuh kali dalam satu tahun. Di seluruh kawsan.

Di luar itu, pemerintah sudah siapkan sistem peringatan baru. Dalam kasus Coquimbo, beberapa menit setelah gempa, sirine meraung mengirim peringatan. Ambulans, pemadam kebakaran, polisi turun mengatur lalu lintas. Ada juga petugas khusus yang memaksa para penduduk yang masih bertahan di rumah untuk keluar dan berlari ke arah bukit.

Ihwal penting lainya adalah menetapkan standar kekuatan bangunan. Pemerintah membuat aturan ketat yang mensyaratkan bangunan baru untuk bisa bertahan dari gempa berkekuatan M=9,0.

Di Indonesia, zona rawan gempa dan tsunami sudah dipetakan, pertanyaanya sudah tersosialisasikah kepada masyarakat yang terpapar langsung? Sudah siapkah semua komponen menghadapinya? Sudah berapa kali kita melakukan simulasi (drill)? Jangan sampai ribuan nyawa kembali hilang, kemudian sibuk sesaat dan kembali lupa. (***)


Penulis bekerja di BMKG, Stasiun Geofisika Kepahiang-Bengkulu