Senyap 4 Tahun, Warga Kembali Jumpa Harimau di Wilayah Lebong Atas

Ilustrasi//
Ilustrasi//

LEBONG, sahabatrakyat.com- Sudah tiga pekan berlalu, Katul (30 tahun), masih enggan beranjak meninggalkan rumah menggarap kebun karetnya yang berjarak sekitar satu jam perjalanan. Tetap di desa adalah pilihan terbaik baginya saat ini.

Keengganan warga Desa Kota Baru Santan, Kecamatan Pelabai, itu menapak kaki, menyapa pondok dan batang-batang karet di kebunnya tak berlebihan. Sejak peristiwa di tanggal 4 Juni 2019, mental rimbanya runtuh.

Waktu itu mentari pagi belum naik di ufuk timur. Bahkan sisa malam masih pekat. Namun sudah lakon petani berangkat lebih pagi agar bisa tiba di kebun sebelum matahari meninggi. Seingat Katul, hari itu masih sekitar pukul 04.30 WIB ketika dia beranjak memunggungi rumah.

Setibanya di kebun, sengat dingin hawa sisa rimba memacunya meracik pelepas dahaga sekaligus penghangat badan. Secangkir kopi, pikir Katul, perlu diseduh pagi itu.

Katul merapat ke tungku. Bukan di dapur, tapi di luar pondok. Dapur di dalam pondok, kata Katul, belum selesai dibangun.

Sudah sekitar jam 07.00 WIB. Tungku masih mengepul. Asapnya terus menyebar. Katul belum sempat menikmati secangkir kopi ketika tiba-tiba ada suara yang membuatnya tak perlu lama berpikir untuk menyelamatkan diri.

Dengan parang di tangan, Katul segera masuk pondok. Suara yang barusan dia dengar jaraknya terasa sangat dekat dan kuat. Tak boleh diremehkan. Nyawa Katul adalah taruhannya.

Katul (30 tahun)

Dari dalam pondok, Katul memberanikan diri mencari tahu asal suara. Dari lubang-lubang kecil dinding pondok matanya menangkap sumber suara. Tak salah, memang suara si raja hutan!

“Besarnya sedikit kecil dari anak sapi, berjarak sekitar 4 meter dari saya berdiri di dalam pondok,” kenang Katul yang ditemui sahabatrakyat.com, akhir Juni lalu (29/6/2019) di kediamannya.

Katul yang masih merasa sekujur tubuhnya lemas setelah mendengar auman harimau itu, dengan senyap menyaksikan seekor harimau berjalan sangat santai di sekitar pondoknya sebelum akhirnya menghilang.

“Aku kalau melihat langsung baru kali inilah, sebelumnya paling hanya jejak kaki saja sebesar telapak tangan,” ujar lelaki itu.

Setelah yakin harimau tak ada lagi di sekitar pondok, Katul pun keluar. Hari itu dia tak jadi menderes getah karet. Tak ada pilihan kecuali balik badan alias pulang.

“Bulan ini (Juni) lah sering nampak, kalau sebelumnya empat tahun yang sudah lebih parah dari ini penampakannya. Sampai kini belum ada saya coba ke sana lagi. Tunggu aman dulu,” katanya.

Marion (40 tahun)

Rupanya Katul tak sendirian. Bahkan sebelum menampakkan dirinya ke Katul, seekor harimau lebih dulu menapak di kebun milik Marion (40 tahun), warga Desa Tik Teleu, Kecamatan Pelabai.

Ditemui di hari yang sama di kediamannya, Marion mengaku melihat si belang dua bulan sebelum Katul. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 05.30 WIB.

Marion juga mendengar auman sebelum dengan berani dia arahkan sinar senter mencari pemilik suara. Dari pondoknya, kata Marion, sejarak 20 meter si harimau tengah duduk di areal kebun karetnya.

Marion berupaya mengusir dengan membuat suara gaduh dari pondoknya. Tapi suara berisik tak mampu mengusik. Si harimau baru beranjak ketika cahaya mentari perlahan mencipta terang.

“Sekitar 20 menit sebelum pergi sendiri. Waktu diusir dia tak mau pergi. Kalau tidak salah ada lima kali bersuara,” cerita Marion.

Kata Marion, selain dirinya dan Katul, warga lainnya yang berkebun juga kerap berjumpa atau sekedar melihat si harimau dari jarak relatif dekat. Kondisi itu memicu keresahan karena warga menggantungkan periuknya dari hasil kebun.

“Saya rasa dalam bulan-bulan ini masih ada, karena kemarin ada yang bertemu lagi,” tutup Marion.


Laporan: Aka Budiman

Editor: Jean Freire