BENGKULU, sahabatrakyat.com– Konstalasi politik jelang Pemilihan Walikota Bengkulu terus bergerak. Meski sudah ada pasangan bakal calon yang memastikan diri ikut kontestasi, namun dinamika jelang pendaftaran ke KPU Kota Bengkulu juga masih menjadi perhatian.
Di sisi lain, seperti apa sosok pemimpin Kota Bengkulu lima tahun ke depan juga perlu menjadi isu publik demi terjadinya diskursus politik yang mendidik. Misalnya, strategi pembangunan apa yang akan dijalankan agar cita-cita mensejahterakan warga Kota Bengkulu bisa terwujud atau setidaknya berjalan pada rule yang tepat.
Menurut Pakar Ekonomi yang juga akademisi Universitas Bengkulu, Profesor Dr. Kamaludin SE. MM, untuk kepemimpinan periode 2018–2023, Kota Bengkulu membutuhkan wali kota yang memiliki wawasan kemaritiman.
“Kota Bengkulu merupakan daerah pesisir, lebih memiliki kekayaan alam perairan dari daratannya, sayangnya belum ada yang mampu menggarap itu,” kata dia di Bengkulu, Selasa (09/01/2018) di Bengkulu dikutip Antara.
Menurut sang profesor, calon wali kota yang akan mendaftarkan diri pada Pilkada serentak 2018 ini hendaknya mempunyai solusi tepat dalam mengembangkan kemaritiman kota.
Di laut, kata dia, banyak tersedia kekayaan alam kualitas ekspor namun belum tereksplorasi. Begitu juga dengan potensi pariwisata pantainya, seharusnya Bengkulu bisa tujuan utama wisata pantai.
Namun sampai saat ini seluruh potensi maritim ini belum mampu dikembangkan Kota Bengkulu, termasuk industri turunan dari produk maritimnya.
Pariwisata pesisir Bengkulu juga belum terintegrasi pariwisata pesisir dengan potensi kekayaan laut yang semestinya bisa dikembangkan lebih baik lagi.
Hal itu mengakibatkan kondisi perekonomian masyarakat pesisir tetap tak berubah, masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan.
“Mereka hanya bisa menjadi nelayan tradisional, ketika cuaca buruk tidak melaut, dan tidak tau harus berbuat apa, akhirnya bukannya menghasilkan malah menumpuk utang,” ucapnya.
Semestinya jika mereka diberikan keterampilan, para keluarga nelayan bisa mengembangkan komoditas laut menjadi produk turunan yang bisa di jual di sentra wisata.
“Kita sangat menyayangkan, pendidikan mereka rata-rata malah tidak tamat SMP, dan tidak punya keterampilan selain melaut, dan juga minim sokongan pemerintah,” kata Kamaludin.
Oleh sebab itu butuh pendampingan yang benar-benar meningkatkan keterampilan masyarakat nelayan dari Pemerintah Kota Bengkulu di tahun mendatang.
“Dalam satu dekade terakhir ini paling hanya sekitar 10 persen proporsi untuk masyarakat nelayan, harus ada proporsi lebih lagi, umumnya untuk sektor maritim, bahkan untuk jangka panjang mengarah ke industri besar,” ujarnya.
Editor: Jean Freire







