Menikmati “Samudera Awan” di Bukit Pabes Lebong

LEBONG, sahabatrakyat.com Tubuh yang masih menggigil setelah semalaman diselimuti dingin udara bukit perlahan hangat oleh pancaran sang surya yang membelai perlahan, Minggu kedua di bulan Juni 2020.

Sang fajar memang belum sempurna bertahta di ufuk Timur. Namun sinarnya sudah cukup mengusir sisa malam.

Ini bukit yang indahnya bisa dipandang dari banyak titik di wilayah Kabupaten Lebong. Tapi belakangan juga menawarkan sensasi panorama awan saat puncaknya jadi pijakan kaki melepas pandangan ke banyak penjuru.

Sunrise atau matahari terbit adalah salah satu sajian yang saban pagi bisa dipandang. Adapun bonus yang tak kalah menarik bahkan menu favorit mereka yang rela berlelah kemari adalah “Samudera Awan”.

Begitu para pendaki bukit memberi nama barisan awan yang menutup pandangan mata saat senja datang sebelum menjelma malam. Panorama yang sanggup memanggil penikmat alam dari kejauhan.

“Mumpung sedang libur, kami datang ke sini untuk bisa mengabadikan keindahan di Bukit Pabes ini,” kata Rina Amelia.

Rina datang dari Kota Bengkulu. Mahasiswi di salah satu universitas di Kota Bengkulu itu mengaku tergoda setelah melihat postingan foto panorama awan dari Bukit Pabes yang diunggah temannya.

Demi menuntaskan rasa penasaran Rina mempersiapkan diri sebelum menjejak tapaknya di sini. Yang utama adalah kamera buat menangkap momen Samudera Awan tadi.

Selain saya dan Rina, di bukit dengan ketinggian 1036 dpl itu tampak serta rombongan anak Pramuka dan sejumlah pendaki lainnya. Puluhan jumlahnya.

“Di sini kalau hari libur ramai sekali, biasanya malam minggu,” kata Okri, pendaki bukit lainnya.

Anak muda berseragam pramuka itu mengaku sering bermalam saat hari libur bersama rekan-rekannya. Bahkan ia kerap mendapat kawan baru dari luar daerah Kabupaten Lebong yang memilih berlibur di puncak Bukit Pabes.

Untuk menuju bukit, ada tiga jalur pendakian yang sering ditempuh. Semuanya melintasi perkebunan kopi. Ada jalur melalui Desa Pagar Agung, Kecamatan Lebong Tengah; ada dari Desa Daneu, Kecamatan Lebong Atas; dan dari Kelurahan Tanjung Agung, Kecamatan Pelabai.

Sebelum memulai perjalanan mendaki bukit, bagi mereka yang membawa sepeda motor dari rumah, pondok-pondok petani di sekitar kaki bukit menawarkan jasa penitipan. Cukup bayar Rp 15 ribu per unit.

Lalu dari pondok penitipan kendaraan bermotor di pondok-pondok petani itu perjalanan kaki biasa ditempuh selama sekitar satu jam. Saya yang kebetulan baru kali ini mendaki, baru tiba di lokasi tujuan setelah tiga jam perjalanan. Maklum, bukan anak gunung.

Sepanjang perjalanan, pendaki harus menaklukkan tebing bukit yang boleh jadi punya kemiringan sekitar 45 derajat. Lumayan untuk membuat pendaki mandi keringat dan kelelahan sehingga harus berhenti demi mengimpun tenaga dan meredahkan lutut kaki yang terasa panas.

Hari itu, saya dan rombongan tiba di puncak Pabes ketika jam tangan menunjukkan pukul 18.00 WIB. Sudah ada lebih dari sepuluh tenda berdiri. Sepertinya mereka sudah lama tiba. Sebab sudah ada yang memasak, bersantai dan tentu selfi-selfi dan jeprat-jepret.

Huhh, keindahan panorama serta suasana alam yang masih asri membuat saya lupa kalau tenaga sudah luluh lantah. Angin gunung menyambut, menyapu peluh yang bikin mandi sekujur tubuh.


Penulis: Aka Budiman