(OPINI) Potret Pendidikan Di Masa Pademi COVID-19

Oleh Sukamdani, M.Pd I
Tokoh muda Pendidikan Bengkulu
Penulis adalah Peraih Penghargaan DAAI Inspiration Award Bidang Pendidikan 2018 dan Peraih Penghargaan Pemuda Inspirasi Bidang Pendidikan 2019 oleh Bengkulu Youth Forum

HAMPIR semua negara kini menghadapi virus yang dengan cepat merubah banyak kebiasaan bahkan keberlangsungan hidup manusia. Kondisi yang membuat banyak sektor dan tatanan kehidupan menjadi tidak menentu akibat penularan virus ini yang sangat cepat, tak terkecuali bagi dunia pendidikan.

Hampir seluruh kampus di dunia tidak bisa lagi menjalankan aktivitas perkuliahan seperti biasa. Atau sekolah-sekolah mulai dari PAUD, SD, SMP, dan SMA pun tidak bisa menjalankan pembelajarannya di dalam ruang kelas.

Berbagai metode pembelajaran pun lalu ditawarkan agar proses perkuliahan dan pembelajaran bisa tetap berjalan ditengah wabah yang menjangkit ini. Namun hingga saat ini belum ada metode yang dianggap memadai agar aktivitas pembelajaran menjadi atau tetap efektif, efisien untuk keberlangsungan pendidikan yang berkualitas ditengah wabah covid 19 ini.

Sudah hampir 3 bulan siswa belajar secara daring/online. Untuk guru dan siswa di perkotaan metode daring mungkin tidak terlalu banyak menemui kendala.Tapi tidak bagi sekolah yang berada di pelosok desa. KBM secara daring ini malah menemui banyak kendala, terutama akses internet dan fasilitas pembelajaran lainnya.

Sistem pembelajaran secara online ini menuntut siswa belajar secara mandiri serta membutuhkan fasilitas dan sumberdaya yang memadai, tak sedikit sekolah yang tidak bisa menjalankan metode pembelajaran jarak jauh tersebut, ada banyak sekolah yang meliburkan proses pembelajaran selama wabah covid 19 ini.

Di sisi lain, orang tua sangat berharap anak-anaknya bisa menjalankan aktivitas belajar seperti sedia kala. Namun pada saat yang sama ada kekhawatiran mereka terhadap penyebaran virus ini ke anak-anak mereka.

Jika tetap belajar dari rumah, orang tua dituntut untuk menjadi mentor bagi anak-anaknya. Hal ini mungkin bisa turut membantu suksesnya pembelajaran secara daring, namun persoalannya tidak semua orang tua punya kapasitas dan waktu untuk membantu anak-anaknya belajar.

Entah apa yang akan terjadi nanti terhadap pendidikan kita. Pemerintah dituntut untuk bisa mencari formula bagaimana dunia pendidikan kita bisa berjalan dengan baik dan berkualitas.

Memang proses pembelajaran PJJ (pembelajaran jarak jauh) bisa menjadi solusi meskipun masih dipandang kurang efektif dan ada konsekuensi bagi orang tua yang berpenghasilan menengah ke bawah. Sebab mereka harus didukung dengan fasilitas semisal HP android atau laptop. Belum lagi harus mengeluarkan biaya untuk akses internet. Maka status kuota internet harus dipertimbangkan.

Belum lagi misalnya daerah-daerah yang akses internetnya belum terjangkau tentu nanti ada ketimpangan antara sekolah yang berada di perkotaan dan di daerah pedesaan, ada daerah yang tidak memiliki akses internet sama sekali, ini semua juga harus menjadi pertimbangan yang mesti diperhatikan oleh pemerintah.

Andaipun semua ini nanti diberlakukan, semua ini harus dilakukan dengan cermat dan dengan catatan kurikulum yang jelas serta perlu penyederhanaan kurikulum pendidikannya.

Sebenarnya guru lebih cenderung mengajar bertatap muka daripada secara daring. Karena kebiasaan selama ini yang mereka lakukan belajar dengan tatap muka, baik di kelas maupun di luar ruang kelas.

Sangat tidak mungkin institusi pendidikan bisa menciptakan karakter siswanya jika pembelajaran tidak dengan bertatap muka, sementara konsep pembelajaran secara daring ini masih dipandang baru oleh para guru tentu banyak mengalami kendala terkhususnya bagi sekolah-sekolah yang berada di pelosok, pembelajaran secara daring/online ini sangat tidak efektif.

Di beberapa daerah pembelajaran secara daring ini tidak bisa diterapkan sama sekali, guru menggantikan pembelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa per minggunya. Sungguh sesuatu yang berat harus dikerjakan guru karena harus mengantarkan lembaran tugas ke rumah siswa untuk dikerjakan di rumah.

Harapan kita semua adalah jangan sampai nasib pendidkan bagi generasi bangsa diabaikan dimasa pandemi covid 19 ini, karena pendidikan sama pentingnya juga dengan kesehatan dan ekonomi. Semuanya berdampak pada kesejahteraan dan masa depan anak.

Selanjutnya perlu juga kita fikirkan dampak psikis bagi anak ketika proses belajar di rumah terus menerus, ketika tidak ada kegiatan-kegiatan yang positif dilakukan. Jika nanti sekolah-sekolah dibuka oleh pemerintah maka harus ada kematangan kesiapan sekolah melaksanakan new normal dengan protokol kesehatan, karena membuka sekolah dimasa pandemi covid-19 saat ini adalah pertaruhan besar bagi kita semua. Dan jika harus belajar secara daring maka hal-hal seperti fasilitas akses internet, biaya penggunaan data internet harus menjadi pertimbangan bagi pemerintah.

Bagaimanapun kondisinya reformasi pendidikan memang harus dilakukan di tengah pandemi covid 19 ini, karena ini menyangkut persoalan kualitas pendidikan serta hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi anak bangsa, sebagaimana telah dimandatkan dalam UUD 1945.

Semoga Covid 19 ini secepatnya bisa teratasi oleh bangsa kita.