Sejarah Rejang dalam Perspektif Tokoh: Buya Endar (4)

Oleh: DMS. Harby*

Buya Endar telah mengulas bagaimana keempat biku Pagaruyung memimpin Renah Sekalawi. Juga menyinggung bagaimana hubungan kekerabatan antar para biku dan bangsawan Pagaruyung dengan bangsawan Renah Sekalawi. Termasuk kesembilan anak Tahta Tunggal Terguling Sakti yang nama kesemuanya berawalan Gajah.

Buya Endar melanjutkan bagian keenam catatan sejarah Rejangnya di akun Facebooknya pada 9 Oktober 2016. Dalam kesempatan ini, Beliau mengulas ihwal Rejang Empat Petulai dan Renah Sekalawi menjadi Lebong. Dari sinilah intisari suku bangsa Rejang.

Diriwayatkan bahwa dahulu di Renah Sekalawi pernah terjadi wabah sejenis penyakit kurap yang sampai menelan banyak korban jiwa. Dari ramalan ahli nujum diketahui bahwa sumber penyakit itu adalah sebuah pohon yang dihuni oleh seekor beruk putih. Pohon yang sangat besar itu dinamakan Benuang Sakti. Apabila beruk di pohon itu berbunyi ke arah manapun, maka negeri bahagian menghadapnya itu bakal terkena malapetaka.

Maka keempat petulai segera mencari dimana keberadaan pohon itu dengan cara berpencar. Setelah mereka menemukan pohon Benuang Sakti itu, barulah mereka menebangnya. Anehnya, setiap kali kapak mereka mengenai pohon itu, maka setiap kali itu pula pohon tersebut membesar dan mengeluarkan darah.

Sementara itu, petulai dengan Biku Bembo pimpinannya baru sampai di lokasi Benuang Sakti. Kala itulah Biku Bembo berujar “pio bah kumu telebong!” Artinya, “di sinilah anda semua kiranya berkumpul!” Mengingat pohon itu tidak dapat roboh meskipun telah ditebang beramai-ramai, maka keempat petulai dengan keempat biku pimpinannya itu pun melakukan rapat.

Setelah itu mereka pun bertarak atau bertapa dan selang beberapa hari mereka mendapatkan petunjuk. Diketahui bahwa agar pohon itu mau dirobohkan, maka, harus disediakan tujuh orang gadis berambut panjang sampai ke betis. Mengingat petulai pimpinan Biku Bembo yang terakhir datang, maka mereka ditugaskan untuk menggalang (mencari sekaligus mengumpulkan) ketujuh orang gadis yang sesuai dengan persyaratan.

Setelah ketujuh gadis berhasil digalang oleh petulai pimpinan Biku Bembo, maka keempat petulai berembuk kembali. Bagaimana ketujuh gadis yang telah digalang itu tidak bakal mati tertimpa pohon Benuang Sakti jika nanti berhasil dirobohkan.

Maka, setelah rapat mereka bermufakat untuk menggali parit yang besar. Panjang dan lebar parit itu sama. Masing-masing berukuran 9 hasta. Pada bagian atas parit digalang pula dengan pelupuh. Untuk melengkapi syarat lainnya dicarikan pula bram manis (ketan hitam yang dimasak pakai gula). Setelah seluruh syarat telah dilengkapi, maka mulailah diadakan upacara yang diiringi alunan musik dari bambu.

Sementara itu, ketika ketujuh gadis tadi tengah menari dengan lincahnya. Ada yang mengatakan mereka menari selama berjam-jam bahkan ada yang mengatakan sampai berhari-hari. Tiba-tiba pohon Benuang Sakti itu roboh dan pas mengarah kepada mereka. Untunglah para biku telah membuat lobang dan memasang pelupuh di atasnya. Saat pohon yang roboh itu menimpa ketujuh gadis tersebut, pelupuh yang mereka injak patah dan mereka pun terjerembab masuk ke dalam lobang. Sehingga selamatlah ketujuh gadis tersebut.

Sejak robohnya pohon Benuang Sakti dan beruk putih penunggunya lenyap, bencana penyakit yang menyerang penduduk Renah Sekalawi pun sirna. Dari peristiwa inilah kemudian petulai-petulakli diberi nama sesuai tugas pekerjaan mereka masing-masing dalam perjuangan bersama melenyapkan wabah dengan merobohkan pohon Benuang Sakti itu.

Petulai pimpinan Biku Sepanjang Jiwo diberi nama Tubeui. Asal kata Rejang “berubeui-ubeui” yang berarti berduyun-duyun. Petulainya Biku Bermano diberi nama Bermani karena bertugas menyiapkan bram manis. Petulainya Biku Bembo dinamai Juru Kalang karena bertugas menggalang ketujuh gadis penari berambut panjang.

Sementara petulainya Biku Bejenggo mendapat nama Selupu dari kata Rejang “berupeui-upeui” yang berarti bertumpuk-tumpuk. Karena tugas mereka menyediakan sampai bertumpuk-tumpuk pelupuh penutup lubang. Sekarang, petulai ini lebih dikenal dengan Selupu Rejang.


Penulis alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah Curup, Pesantren Arrahmah Curup dan Pesantren Nurul Huda Sukaraja OKU Timur. Selain sebagai Ketua PC Tarbiyah-PERTI Rejang Lebong dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong, penulis juga Wakil Ketua Yayasan PPNH Sukaraja