Ketika 10 Tentara 'Amankan' Seekor Piton 8 Meter 150 Kg

10 Anggota TNI saat mengamankan seekor piton/ist

JAKARTA, sahabatrakyat.com– Seekor ular piton sepanjang 8 meter dan bobot 150 Kg ‘ditangkap’ aparat militer di lahan Pusat Latihan Tempur Kodiklat TNI AD di Martapura-Baturaja, Sumatera Selatan, akhir pekan lalu (23/3/2019). Setidaknya ada 10 tentara yang ikut mengamankan sang piton.
Komandan Puslatpur Kodiklat TNI AD Kolonel Inf Anton Yuliantoro, S.IP., M.Tr (Han) mengatakan, setelah diamankan ular kembali dilepas-liarkan ke habitatnya. Itu sebagai bentuk komitmen TNI dalam pelestarian alam dan satwa liar.
Seperti dirilis tniad.mil.id, penangkapan ular bermula saat Tim Gabungan Yon Zipur tengah melaksanakan pembukaan lahan dalam rangka penataan kembali daerah latihan tersebut.
“Saat alat berat bekerja dan melakukan pembersihan, tiba-tiba terlihat seekor ular yang sangat besar dan panjang di dalam semak-semak, khawatir terlindas alat berat, maka anggota di lapangan mencoba menangkap dan mengamankannya,’’ terang Anton.
Dikatakan Anton, di kawasan Puslatpur TNI AD seluas 43.000 hektar tersebut, diketahui masih terdapat berbagai spesies satwa liar yang dapat dikategorikan sebagai hewan dilindungi. Di antaranya: Beruang Madu, Macan Sumatera, Rusa, Tapir, Ular dan spesies hewan lainnya.
“Melihat pentingnya menjaga kelestarian satwa dari kepunahan, seluruh anggota kita perintahkan untuk tidak melakukan perburuan maupun penangkapan, termasuk juga disampaikan kepada masyarakat,” ujar Anton.
“Satwa di daerah Puslatpur merupakan kekayaan flora dan fauna tidak ternilai harganya. Perburuan dan penangkapan hewan tanpa mempertimbangkan proporsionalitas akan berdampak buruk pada keseimbangan ekologis dan akan menimbulkan kerusakan alam, yang pada gilirannya akan merugikan manusia itu sendiri,” jelasnya.
Kasilat Depas Mayor Arm Dedi mengatakan, sebagai bentuk pengawasan dan pencegahan, dirinya selalu memberikan penekanan kepada para prajurit maupun warga sekitar untuk lebih waspada dan berhati-hati agar tidak membahayakan diri.
“Juga dilarang berburu, karena secara otomatis akan menganggu lingkungan hidup mereka (hewan buas). Jika sudah seperti itu maka bintang tersebut kelaparan dan turun ke kampung penduduk,” pungkas Dedi.


Editor: Jean Freire