Diduga Garap HL di Bukit Resam, 2 Warga Diamankan Polres BU

BENGKULU UTARA, sahabatrakyat.com Dua warga yang diduga melakukan kegiatan perkebunan di kawasan hutan lindung Bukit Daun Kelompok Bukit Resam diamankan unit Tipiter Polres Bengkulu Utara, Rabu (19/02/2020).

Dua orang yang sudah dibawa ke Mapolres Bengkulu Utara di Arga Makmur itu diketahui bernama Dewantoro (42 tahun) asal Kecamatan Giring Mulya. Seorang lagi yang belum terkonfirmasi identitasnya diketahui seorang perempuan asal Desa Pagar Agung, Lebong.

Kapolres Bengkulu Utara melalui Kasat Reskrim AKP Jery Antonius Nainggolan SIK yang dikonfirmasi jurnalis sahabatrakyat.com membenarkan adanya penangkapan tersebut. Dikatakan penangkapan saat itu bertepatan dengan patroli wanalaga 2020. Selain dua warga, petugas juga mengamankan satu unit roda dua dan kopi sebagai barang bukti.

AKP Nainggolan mengatakan terhadap Dewantoro dijerat pasal 92 ayat 1 huruf a jo pasal 17 ayat 2 huruf e UU Nomor satu 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Terkait identitas warga Lebong yang turut diamankan polisi menyatakan akan dirilis pada Senin (24/02/2020). “Benar mas. Rencana Senin kita akan press rilis,” kata Kasat Reskrim Nainggolan.

Kepala Desa Rena Jaya Mariduan yang ditemui sahabatrakyat.com di kediamannya Jumat sore (21/02/2020) mengatakan, dua orang yang ditangkap aparat itu bukan warga desanya. Namun mereka tercatat sebagai anggota kelompok tani yang sudah mengusulkan permohonan izin pemanfaatan kawasan.

“Sebenarnya tinggal menunggu tanda tangan saja dari menteri kehutanan karena tahapan-tahapan untuk persetujuan izin itu sudah. Terakhir di 2019 lalu adalah verifikasi teknis oleh tim kementerian,” terang Mariduan.

Terkait penangkapan dua warga tersebut Mariduan juga sudah minta klarifikasi ke Polres Bengkulu Utara. Ia juga sudah menjelaskan proses perizinan pola hutan kemasyarakatan yang kini sudah di kementerian terkait.

“Proposal dan berita acara hasil verifikasi teknis ini juga saja tunjukkan. Copi-nya saya berikan. Polisi juga sudah menelpon langsung pihak kementerian,” kata dia.

Mariduan mengaku tak bisa berbuat banyak. Misalnya minta warga dibebaskan. “Kalau sudah melawan hukum susah. Padahal di setiap kesempatan saya sudah ingatkan dan mengimbau agar kita bersabar dulu sampai izin keluar. Tapi kalau sudah urusan perut saya juga dilema,” kata pria kelahiran 1979 ini.

Yang pasti Mariduan berharap agar izin pemanfaatan kawasan yang sudah dihitung mencapai lebih seribu hektar di kawasan hutan lindung Bukit Resam itu bisa segera diteken. “Sehingga warga yang sudah terdata sebagai calon pemanfaat bisa beraktivitas dengan nyaman,” tandas Mariduan.


Pewarta: Sumitra Naibaho dan MS Firman