Diterjang Banjir ‘Dunia-Akhirat’, Sampai Kapan?

Polisi turun memantau situasi banjir di Desa Tangua, Kec. Uram Jaya, Minggu malam (26/4/2020)/Foto: WAG Seputar Lebong

LEBONG, sahabatrakyat.com Suara gelembung-gelembung udara memecah sunyi di sebuah areal makam, Minggu malam (26/04/2020).

Suara itu membuncah dari air yang menggenang lalu merembes masuk kubur. Ruang hampa yang sedak pun terlontar ke permukaan dilontar menjadi gelembung-gelembung udara.

Itulah pemandangan malam di TPU Desa Lemeu yang diterjang banjir akibat meluapnya Sungai Uram setelah hujan deras mengguyur sejak petang.

Banjir di wilayah Kecamatan Uram Jaya, Kabupaten Lebong akibat meluapnya Sungai Uram dan atau Sungai Ketahun sudah menjadi pemandangan biasa.

Banjir seolah agenda rutin tahunan di sana. Tak hanya di musim penghujan. Saban hujan deras beberapa jam saja, warga sudah maklum banjir akan berkunjung walau sebentar.

Seperti Minggu malam (26/04/2020) itu, luapan air dua sungai di Uram Jaya meninggi hingga satu meter dari biasanya setelah hujan deras mengguyur Lebong seharian. Ketinggian air itu terpantau di Desa Lemeu, yang memang paling hilir lokasinya.

Air pun meringsek ke rumah-rumah penduduk, fasilitas umum dan areal persawahan. Setidaknya ada 50 rumah yang tergenang. Banjir tak pilih kasih! Ia menerjang yang hidup dan mati, bak bencana dari dunia hingga akhirat.

Sementara pantauan sahabatrakyat.com di desa tetangga, Desa Tangua, banjir memang hanya meluap hingga ke badan jalan raya, pekarangan dan teras rumah warga. Tapi genangan air sudah mengganggu kenyamanan warga yang baru saja berbuka puasa.

Sampai Kapan?

Pemerintah Kabupaten Lebong sudah saatnya memberi perhatian khusus bagi upaya memutus rutinitas banjir di Uram Jaya, khususnya di Desa Lemeu.

Masyarakat melalui pemerintah desa dan kecamatan juga nyaris setiap tahun mengusulkan ada proyek pemerintah guna mengatasi bencana banjir tersebut dalam forum Musrenbang.

Masa sudah mau empat kali pemilihan bupati, banjir tak kunjung teratasi?


Pewarta: Sumitra Naibaho