Menata Petalangan dan Upaya Merintis Sekolah Rakyat Petani Lebong

Gambar areal kebun dan pembagian zona lahan/Foto: FB Nurkholis Sastro

LEBONG, sahabatrakyat.com– Sebelum akrab lalu dicengkeram sistem ekonomi pasar (kapitalisme), petani di Lebong sudah mengenal sistem bertani polikultur, yakni bertani dengan beragam komoditi pada satu hamparan. Mereka mengatur jenis komoditas di talang atau kebunnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga tahunan.

Derasnya perubahan zaman, menguatnya rayuan konsumerisme dan budaya hedon menggerus kearifan lokal itu. Lahan kebun mulai berubah. Berganti menjadi hanya satu tanaman dominan: cengkeh, kopi, karet dll.

Nyatanya, pola bertani dengan satu jenis komoditas dominan itu tak menopang kehidupan petani secara berkelanjutan. Petani yang tak punya nilai tawar (modal) justru terjebak dalam jerat tengkulak dan harga yang ditentukan sepihak.

Hingga saat ini apa yang disebut sebagai ‘musim panceklik’ hampir tiap tahun terjadi.

“Pesatnya pertambahan penduduk dan terbatasnya lahan produktif, di luar kawasan lindung, di Lebong ini menjadi bagian dari pemicu angka pengangguran dan kemiskinan yang bertambah di akhir 2019,” ujar Nurkholis Sastro, baru-baru ini di Muara Aman.

Koordinator KKI Warsi Bengkulu itu mengatakan, masyarakat Lebong yang memang didominasi petani terus terdesak oleh rayuan budaya konsumtif. Pada saat yang sama, ada sektor yang tidak masuk prioritas program RPJMD sehingga kian berisiko dari bencana ekologi ( banjir, longsor, kebakaran hutan) akhir-akhir ini.

“Sistem berkebun dengan gilir balik petalangan memang siklus proses pemulihan tanah atau lahan secara alami yang membutuhkan waktu hingga 30 tahun atau lebih. Sistem ini haruss beradaptasi dengan cepat dengan pertambahan penduduk, teknologi dan cengkraman pasar,” imbuh Sastro.

Sastro mengakui pemikiran dan upaya untuk menemukan fungsi ekologi, ekonomis dan bertani selaras alam saat ini memang bagian perlawanan lokal yang terdesak.

“Nah, belajar menata zona atau ruang kebun agar bisa memenuhi manfaat ekologi, ekonomi, dan sosial-budaya lokal tempatan menjadi pergulatan menarik bagi kami di Petalangan Air Tik Culo Nagai,” ungkapnya.

Demi merealisasikan pemikiran itu, pegiat lingkungan dan sosial Bengkulu asal Nangai Amen, Lebong ini kini tengah menata lahan kebunnya seluas tiga hektar sebagai pusat belajar bagi petani yang akan disebutnya sebagai sekolah rakyat petani.

Lahan kebun yang berlokasi di Desa Ladang Palembang, Kecamatam Lebong Utara itu dalam proses penataan ruang demi ketepatan pemanfaatan.

Rencananya, di lahan itu bakal dia buat beberapa zona, yaitu zona untuk tanaman lokal yang bisa dikonsumsi harian; zona tanaman nasional seperti kopi; dan zona peternakan.

Dengan pendekatan itu Sastro berharap tercipta kebiasaan baru yang mendorong petani pada kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan. Sederhananya: menciptakan pertanian yang mendukung kesehatan alam dan mengatasi keadaan panceklik yang kerap dialami petani Kabupaten Lebong selama ini.

“Kenapa misalnya harus berternak juga? Karena selain ada nilai ekonomis, itu juga akan menghasilkan pupuk organik secara mandiri,” ujar Sastro, Minggu malam, (19/01/2020).

Maka tujuan dari mendirikan sekolah itu, sampainya, adalah demi terbangunnya pola maupun jejaring petani dalam rangka bersama-sama mendorong dan membangun semangat dan daulat sehingga ada kebanggaan menjadi petani.

Nama sekolah rakyat petani, terang Sastro, merupakan istilah untuk para petani yang sudah dan akan bersama-sama dengan Sastro belajar. Bahkan ada rencana kedepan membuat kajian akademik, yang kalau di sekolah biasa disebut kurikulum.

“Petani yang akan bergabung dalam proses belajar bersama itu. Kesiapan kita belajar, ya sesama kita, alam kita, dan sekali-sekali akan kita datangkan pemateri, mungkin dari perguruan tinggi, untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman,” tandasnya.


Pewarta: Aka Budiman dan Sumitra Naibaho