
LEBONG, sahabatrakyat.com– Ada yang berbeda di Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Ampel Darussalam Kabupaten Lebong kini. Jika biasanya hanya suara mengaji dan rutinitas belajar mengajar layaknya lembaga pendidikan lainnya, sejak sebulan terakhir para santri punya kegiatan baru: mereka mencipta karya dari sampah dan bahan-bahan yang selama ini tak berguna.
Lewat arahan dan bimbingan Ustadz Zainul Arif, para santri sudah mulai mahir merakit songkok atau peci dari koran bekas dan kardus. Namun yang paling unik dan menjadi pembeda adalah pemanfaatan tanaman resam sebagai ciri khas atau material utama karya.
“Ternyata di Lebong ini tanaman Resam sangat mudah dijumpai dan selama ini tidak dimanfaatkan. Dibanding dengan bahan-bahan yang pernah saya bikin, resam ini paket komplit. Dia bisa untuk bahan souvenir sekaligus bisa untuk furniture,” ujar pria yang biasa disapa Arif.
Arif yang memangku bidang kewirausahaan di Ponpes Ampel Darussalam itu menambahkan, dengan sumber daya tanaman resam yang melimpah yang dipadukan dengan sampah, ia optimis karya seni atau kerajinan tangan itu tidak saja berdampak positif bagi lingkungan, tapi juga bisa mendatangkan rupiah.
“Mimpi saya adalah para santri bisa bikin karya yang bagus. Siapa tahu bisa mendatangkan rejeki. Kalau jalan begitu, bukan mustahil mereka nanti yang justru membantu orang tuanya dari sisi ekonomi. Tidak lagi seperti selama ini, orang tua yang membiayai,” papar Arif.
Lebih jauh Arif melihat keterampilan mengolah sampah menjadi karya seni dan bernilai materi itu merupakan bagian dari upaya Ponpes Ampel Darussalam menghasilkan santri dan alumni yang punya skil khusus. “Ini sebagai bahan atau bekal mereka nanti,” cetusnya.
Arif menguraikan, dari tanaman resam atau pakis gajah, yang dimanfaatkan adalah batangnya yang dikeringkan terlebih dulu. Namun tidak menutup kemungkinan dirinya menemukan potensi lain di Lebong yang dapat dijadikan bahan utama kerajinan.
“Kita sedang melihat dulu, saat ini baru Resam atau Rumput Pakis Gajah sebagai salah satu potensi di sini,” kata penyandang gelar sarjana arsitek (S.Ars) itu.
Diawali Wudhu
Dalam bimbingannya, kata Arif, untuk dapat cepat belajar darinya hal yang paling utama sebelum menerima bimbingan haruslah berwudhu terlebih dahulu. Segala ilmu yang dimiliki, menurutnya, harus disadari bahwa itu adalah titipan Sang Maha Pencipta.
“Yang terpenting bagi saya sebelum memberi bimbingan itu adalah wudhu dan mengamalkan sholawat,” ungkapnya.

Diceritakan Arif, dari bahan sampah pula selama ini dia sudah membina 60 ribuan orang di wilayah Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Selain material sampah, ia memanfaatkan potensi lokal sebagai penciri khas. Di antaranya sampah laut dan plastik bekas.
“Usaha rumahan sudah banyak, kalau galeri ada di Pemerintah Provinsi Gorontalo milik Idah Sahidah Rusli Habibie. Di Universitas Negeri Gorontalo juga ada toko kerajinan kita,” kata alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) itu.
Kepala Ponpes Ampel Darussalam Yusuf menjelaskan, para santri mulai belajar sejak Januari lalu. Mereka belajar diwaktu senggang. Saat ini, lanjutnya, santri telah mampu menciptakan kerajinan tangan seperti peci, asbak dan hiasan kaca.
“Kalau dilihat tidak nampak kalau itu dibuat dari koran, rumput dan kardus,” ujar Yusuf yang dibincangi sahabatrakyat.com awal Februari lalu ( 2/2/2019). Yusuf berharap, pesantren yang dipimpinnya dapat memberikan bekal ilmu yang berguna.
Ke depan, lanjut pria yang biasa disapa buya itu, ponpes akan membuka galeri sebagai tempat menampung berbagai hasil karya. “Pastilah kita buka galeri nanti di sini,” sampainya.
Salah satu santri yang antusias belajar membuat kerajinan, Beni mengungkapkan, dirinya sangat senang dapat menyelesaikan sebuah peci meskipun dalam tempo dua hari. Beni mengaku termotivasi ingin membuat karyanya lebih banyak. “Mau buat banyak. Biar bisa dapat uang,” cetus Beni.
Pewarta: AKA BUDIMAN
Editor: Jean Freire









