Jejak Inspiratif Teguh REP (Bagian 2): “Tokoh Inspiratif dan Lahirnya Perda Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Rejang…”

Teguh REP saat menerima penghargaan Golden Personality Award tahun 2018/Foto: RMOL Bengkulu

PILKADA 2010 menjadi langkah awal Teguh REP terjun ke dunia politik praktis. Waktu itu publik Lebong mengenalnya sebagai ketua tim pemenangan pasangan calon bupati dan wakil bupati, Rosjonsyah-Panja Wijaya (RJP), si monok pukeng!

Oleh: Sumitra Naibaho, LEBONG:

Dengan raihan suara lebih 18 ribu, RJP unggul dan memenangkan kontestasi yang diikuti tujuh pasangan calon. Mereka di antaranya: petahana Dalhadi Umar-Rabean Jaya Sakti;
Nasirwan-Armansyah; Mulyadi Kahar-Nani; dan Antori-Gustiadi.

Sukses di Pilkada 2010, Teguh kemudian benar-benar menjadi politisi. Di Pemilu Legislatif 2014, Rio Capella, salah satu tokoh politik Lebong bahkan Bengkulu yang sudah berkibar di
kancah nasional, menawarkan Teguh ke NasDem.

Tawaran itu diterimanya.

Teguh pun resmi menjadi caleg Partai Nasdem di Dapil 3 Lebong yang mencakup Lebong Atas, Pelabai, Lebong Utara, Pinang Belapis, Amen, dan Uram Jaya.

Meski baru pertama atau perdana sebagai caleg, Teguh justru bikin kejutan. Ia meraih 1.211 suara. Capaian suara yang mendongkrak kemenangan Partai NasDem di Lebong.

Puncaknya, sebagai peraih suara tertinggi ia dipercaya mengemban jabatan ketua DPRD Lebong periode 2014-2019.

Setahun di legislatif, Teguh kembali terlibat di Pilkada 2015. Ia kembali memimpin tim pemenangan pasangan Rosjonsyah yang kali ini berpasangan dengan Wawan Fernandez.

Di bawah kepemimpinan Teguh, pasangan dengan jargon RJW itu kembali menang setelah unggul atas empat pasangan lainnya: Leni-Bimo; Kopli-Joni; Masropen-Deri Jati; dan Wilyan- Maruf.

(Berita Terkait: Jejak Inspiratif Teguh REP: Berkubang di Tambang, Mengembara di Belantara, Menembus Batas Negara…)

Bukan Tiba-Tiba

Sejatinya, terpilih menjadi anggota DPRD Lebong itu bukan peristiwa yang tiba-tiba. Selama menekuni bisnis gaharu di Jakarta, Teguh adalah rujukan orang-orang Lebong yang pergi merantau ke pulau Jawa. Baik yang mau berbisnis gaharu atau sekedar mampir sebelum ke tambang emas di Pongkor, Bogor,Jawa Barat.

“Ketika saya di Jakarta, komunikasi saya dengan masyarakat Lebong itu tidak putus. Alhamdulillah pada saat itu kita jadi rujukan, itu kalau mereka ke Jakarta pasti mampir ke
rumah kita di Jakarta,” cerita Teguh.

Maka setelah terpilih menjadi anggota dan menjabat ketua DPRD Lebong, Teguh juga terpilih menjadi ketua DPD Partai NasDem Lebong. Jabatan itu dia emban hingga sekarang.

Bahkan lima tahun kemudian, Teguh juga kembali terpilih sebagai anggota DPRD Lebong hasil Pemilu 2019 dengan peningkatan jumlah dukungan: 1.988 suara.

Pandangan Politik

Menurut Teguh, berbisnis dan berpolitik itu tidak ada bedanya. Baginya urusan kedua bidang itu tetap terkait dengan dimensi kemanusiaan. Jika bisnis menjual produk dengan
garansi kualitas, maka politik adalah soal garansi kepuasan publik.

“Ya, bisnis dan politik itu tidak ada bedanya karena yang kita jual itu produk kemudian sentuhannya adalah subjek. Jadi ketertarikan saya, bagaimana membangun dan memberdayakan sumber daya manusianya.”

“Kebetulan menurut perspektif saya bisnis juga nanti rujukannya ke arah manusia dan politik itu juga begitu, yang kita jual adalah produk.”

“Saya pikir produk yang muncul itu ada titik klimaks yang bisa kita ambil, yakni tingkat kepuasan. Begitu pula di dunia politik. Ini yang saya coba kembangkan dari bisnis ke
dunia politik.”

“Saya meyakini ada titik singgung antara kepuasan bisnis dan politik. Pekerjaan yang saya geluti dalam pengelolaan gaharu sampai-sampai saya jadi penemu dan diakui dunia,
khususnya konsumen di negara Saudi Arabia, Cina, Vietnam dan Taiwan, adalah buktinya.”

“Bisnis itu bagaimana kita mengimplementasi imajinasi yang kita masukkan ke dalam rasa. Saya pikir-pikir, politik juga begitu. Ada rasa yang harus kita bangkitkan.”

“Jadi kalau saya mengambil gambaran bahasa gampang itu ya politik itu bahasa nurani, yang mau kita ambil itukan rasa nurani atau rasanya orang (simpati) dan panggilan jiwa.”

“Nah, ada tingkat kepuasaan tersendiri saat produk yang kita gelontorkan itu sampai ke tengah masyarakat. Ada kepuasan saat kita menawarkan kualitas dan kuantitas. Kita tidak mungkin diakui kalau seandainya kita tidak mengakui.”

“Jadi pengakuan kita terhadap diri sendiri itu ada sesuatu (wujud) berupa produk dari diri kita. Entah ucapan atau tindak tanduk maupun tindakan yang kita lakukan sehari-hari,
itulah menjadi tolak ukurnya.”

Yang tak kalah menarik dari sosok Teguh adalah tentang kesadaran diri. Sadar akan kapasitas, kompetensi dan tanggung jawab.

Bisnis gaharu yang dijalani dia diperkuat dengan menuntut ilmu ekonomi di perguruan tinggi. Hasilnya, Teguh sukses membangun perusahaan dengan ilmu bisnis dan manajemen ekonomi yang baik.

Hal serupa juga ia lakukan dengan lakon politik. Sejak 2016, Teguh rupanya kembali ke kampus. Ia pilih jurusan hukum di kampus tertua di Bengkulu, Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH atau Unihaz.

“Saya harus mengetahui dan menguasai soal dasar. Nah, setelah saya telusuri, menurut analisis saya, di hukum ini ada ilmu psikologis individu maupun kehidupan masyarakatnya.
Apa sih yang menjadi dasar supaya kita bisa membahas tentang psikologis maupun sosial kemasyarakatan.”

“Saya kaji, salah satu cara menyelesaikan permasalahan itu apabila kita memahami aturan. Maka saya ambil fakultas hukum. Di sana ada (ilmu) dasar-dasar.”

“Hukum itu berhubungan dengan manusia, jadi yang harus diteliti itu tentang manusianya, sedangkan saya sebagai pejabat publik di lembaga politik setiap harinya berurusan dengan soal kemanusiaan. Jadi saya mempelajari hal yang paling dasar.”

Rupanya kembali ke kampus dengan niatan itu membuahkan hasil. Hanya dalam tempo satu tahun setelah ke balik kampus, DPRD Lebong di masa kepemimpinan Teguh berinisiatif mengajukan raperda yang belakangan dikenal sebagai Perda Nomor 4 Tahun 2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Rejang.

Lewat Perda 4/2017 ini, Teguh meyakini tanggung jawab dantugas mendasar pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lebong yang mayoritas adalah bertani (kebun dan sawah), bertambang emas tradisional, dan usaha lain yang dekat dengan hutan bisa dilakukan.

Sebagai perda payung, kata Teguh, Perda 4/2017 menjadi acuan atau pedoman dalam mengatur urusan-urusan lain. Yang paling utama adalah membuka ruang bagi pemanfaatan lahan di kawasan terutama TNKS yang selama ini terlarang.

“Sebab sejatinya masyarakat Rejang sudah mengenal hutan adat yang saat ini justru masuk ke dalam kawasan. Baik hutan lindung maupun TNKS,” kata Teguh. “Jadi aturan ini
mengakui dan mau melindungi masyarakat yang bergantung dengan hutan.”

Hanya saja, Teguh melihat upaya mendapatkan pengakuan dan hak kelola yang dicita-citakan dalam penyusunan Perda 4/2017 itu belum diimplementasikan secara optimal. Padahal tahapannya sudah hampir tuntas.

“Konsep saya, lahirnya regulasi tentang pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat ini supaya masyarakat Lebong bisa menikmati hak-hak dasarnya. Masyarakat merasakan manfaat terhadap tindakan yang sudah kita lakukan. Itu harapan saya.”

“Harapan tentu tidak terlepas dari tuntunan. Karena berhasilnya manusia itu apabila ada nilai manfaatnya bagi orang lain. Kemudian, berkualitasnya seorang manusia itu apabila selamat nya orang lain itu dari ucapan dan tindakannya.”

Tokoh Inspiratif

Dalam perjalanannya, jejak perjuangan dan kiprah Teguh REP di kancah pembangunan daerah dan politik Lebong rupanya mencuri perhatian dan jadi sorotan secara luas.

Puncaknya, ia diganjar dengan penghargaan Golden Personality Award oleh salah satu media nasional dalam even bertajuk Malam Budaya Manusia Bintang Tahun 2018.

Selain kiprah politik dan sosialnya, Teguh juga dinilai karena gerakannya dalam program edukasi berbasis agrobisnis, dimana sosok kepemimpinannya menjadi contoh bagi  masyarakat yang berada di Kabupaten Lebong. Salah satunya kebun bawang merah.

Selain itu Teguh REP juga menjadi salah satu pengurus pusat Organisasi Asosiasi Pengusaha Eksportir Gahal Indonesia (Asgarin) serta pembina Yayasan Lebong Rahmah Center (YLRC).

Selain Teguh REP, waktu itu penghargaan serupa juga diberikan kepada tokoh nasional dan lokal lainnya. Di antaranya adalah Kepala Biro Komunikasi Publik Setjen Kementerian PUPR, R. Endra Saleh Atmawidjaja, Waka III DPRD Provinsi Bengkulu, Elfi Hamidy Marah Sudin, Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu, Jonaidi, dan Kadis Pariwisata Provinsi Bengkulu, Yudi Satria.

Dalam sambutannya, Direktur RMOL Bengkulu, Dr. Rahiman Dani, mengatakan penghargaan Golden Personality ditujukan kepada individuyang dipandang melakukan pekerjaan besar melewati kapasitas dan ruang tanggung jawab mereka.

“Teguh adalah salah satu sosok yang tangguh dalam menyelesaikan berbagai persoalan,” ujar Rahiman Dani yang juga mantan anggota dewan itu.